Pisau di Tangan Benjamin Chua dan Manish

Lolos dari Lubang Maut Aortic Dissection (7)

Oleh Dahlan Iskan

 

Tibalah saat operasi itu. Tempat tidur saya didorong dari kamar 803. Menuju ruang operasi di rumah sakit Farrer Park Singapura ini.

Jam menunjukkan pukul 16:00. Robert Lai dan istrinya berjalan di belakang tempat tidur saya.

Setelah naik-turun lift terbacalah  oleh saya tulisan besar: ruang operasi. Robert melambaikan tangan. Juga istrinya. Pertanda mereka hanya boleh mengantar sampai batas itu.

Saya tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Suster-suster masuk. Badan saya diangkat ke meja operasi. Lalu saya akan dianestesi.  Disuntik cairan untuk mati rasa. Lima menit setelah suntik itu, mestinya, saya akan tertidur. Tidak akan tahu apa-apa. Tidak akan ingat apa-apa. Tidak akan merasa apa-apa.

Saya masih ingat pengalaman seperti itu 10 tahun yang lalu. Saat operasi ganti hati di RS Tianjin, Tiongkok.

Dokter anestesi pun masuk. Memperkenalkan diri. Dan menceritakan apa yang akan dia lakukan. Saya bilang, saya sudah tahu.

Saya lihat dia mulai mengikatkan sesuatu seperti sabuk di lengan atas saya. Pengikatnya rewel. Gak bisa dipasang. Dicoba diperbaiki.  Tidak bisa. Dokter minta diganti dengan ikatan dari karet saja. Begitu diikatkan, karetnya putus. Ganti lagi.

Wah pertanda apa ini? Saya tidak percaya takhayul. Saya abaikan saja. Setelah akhirnya sukses, mulailah proses penyuntikan anestesi.

Saya pun melirik jam dinding yang cukup besar. Lima menit berlalu. Kok saya belum tertidur. Lima menit kemudian masih juga sadar. Saya masih bisa mendengar pembicaraan para perawat. Kok lama sekali. Jauh lebih lama dari waktu anestesi di Tianjin dulu.

Mendekati lima belas menit saya tidak ingat apa-apa lagi. Juga tidak tahu apa-apa lagi. Tidak merasa apa-apa lagi. Termasuk tidak merasa ketika bulu kemaluan saya dicukur.

Saya sudah diberitahu apa yang dilakukan dokter saat saya ditidurkan itu. Dokter melubangi tulang belakang saya. Memasang selang kecil untuk mengeluarkan cairan dari sumsum tulang belakang. Agar saya terhindar dari resiko kelumpuhan.

Dokter Benjamin juga akan memotong saluran darah saya di selangkangan kiri. Untuk dipasangi selang. Dan yang utama, dokter menyayat saluran darah saya di selangkangan kanan. Untuk memasukkan stent. Menuju aorta di dekat jantung. Stent itu akan secara permanen menyatu dengan saluran darah saya yang robek saat saya di Madinah 15 hari sebelumnya.

Stent itu berupa selang. Luarnya terlihat kasar. Mirip selang pemadam kebakaran. Besarnya hampir 4 cm, sebesar aorta. Panjangnya 20 cm.

Lalu dimasukkan lagi stent sambungannya. Untuk melindungi saluran darah utama di bawahnya. Panjangnya 30 cm. Sampai dekat  pusar. Yang ini seperti rangkaian kawat berbentuk selang.

Dokter Benjamin melakukan semua itu dalam waktu dua jam.

Sebelum pukul 20:00, saya sudah dibangunkan. Setengah sadar. Dokter Benjamin menunjukkan layar hand phone ke saya. “Operasi sukses. Ini videonya,” katanya.

Saya mencoba tersenyum padanya. Sebagai ucapan terima kasih. Mata saya hanya melirik sekilas ke layar hand phone. Masih mengantuk. Masih berat.

Untuk melakukan operasi itu dokter Benjamin dibantu dokter Manish, kelahiran New Delhi, pendidikan di Inggris dan kini warga negara Singapura. Manish juga lulusan Edinburg di Scotland.

Saya bertemu dokter Manish hanya sekali. Sehari sebelum operasi. Wajahnya simpatik. “Nama saya mudah diucapkan kan? Cukup panggil saya manis. Dalam bahasa Indonesia artinya baik kan?,” gurau Dr Manish dalam bahasa  Inggris aksen Inggris yang kental.

“Di tangan kami berdua Anda  aman,” kata Manish.

Waktu saya dianestesi, dokter Manish belum tiba. Waktu saya sadar dia sudah tidak ada. Dia pun merasa tidak perlu jenguk saya. “Di mana dokter Manish? Saya kangen wajahnya,” kata saya kepada dokter Benjamin.

Tiga hari setelah operasi. Dokter Benjamin mengatakan akan menyampaikan kekangenan saya itu ke dokter Manish.

Hari itu, lima hari setelah operasi,  saya sudah boleh keluar dari RS. Tapi harus tetap tinggal di Singapura. Untuk kontrol. Kebetulan ada hotel di bagian atas rumah sakit ini.

Saya pun mengajukan pertanyaan  apakah banyak kesulitan saat mengoperasi saya. ”Tidak ada,” kata dokter.

“Sudah banyak orang yang saya pasangi stent seperti Anda. Bahkan ada yang panjangnya sampai kaki,” katanya.

Stent sepanjang 50 cm ini ternyata biasa baginya. Teknologi begitu maju. “Jadi, stent Anda ini bukan yang terpanjang,” kata Benjamin.

Saya begitu penasaran. Ingin tahu wujud selangnya seperti apa. Dokter Benjamin menjanjikan untuk memberi contoh stent yang dipasang di pembuluh darah saya. “Kelak, kalau Anda kontrol ke klinik saya Anda akan lihat wujudnya,” katanya.

Berarti masih seminggu lagi.

Dokter Benjamin menyenangkan. Suka bercanda. “Dengan stent ini Anda memang sudah tergolong bionic man. Tapi baru setengah,” katanya. (bersambung)

Hampir Saja Skenario By Pass di Leher

Lolos dari Lubang Maut Aortic Dissection (6)

Oleh Dahlan Iskan

Tidak ada jalan lain. Tindakan harus segera dilakukan. Pecahnya pembuluh darah utama saya harus segera diatasi. Saya pun bertanya, kapan dokter James Wong melakukan tindakan. Saya sudah siap, baik skenario 1 maupun skenario 2.
James Wong terdiam sesaat. “Besok (hari Minggu) saya harus ke Myanmar sampai Selasa. Saya bisa lakukan Rabu,” ujarnya.

Bagi saya, demikian juga Robert Lai, teman baik saya itu. Rabu itu terlalu lama. Saya ingin dilakukan sesegera mungkin. Kalau perlu saat itu juga (Sabtu). Tapi CT scan khusus yang lebih detil masih harus dilakukan. Paling cepat hari Minggu, esoknya.

Jadwal James Wong ke Myanmar gak bisa ditawar. Robert terpaksa menghubungi teman baik saya yang lain. Orang penting Singapura. Terpaksa.

Saya sebut dia mentor saya di banyak hal. Beliau sudah beberapa kali membantu saya keluar dari krisis. Beliau pun bergegas menjenguk saya di RS. Sambil menyalahkan mengapa tidak sejak awal menghubunginya.

Beliau pun telepon sana-sini. Akhirnya ditemukan ahli saluran darah terkemuka di Singapura. Namanya: Benjamin Chua. Prakteknya di Mount Elizabeth. Tapi berkat wibawa sang beliau, dokter Benjamin bersedia datang ke RS Mount Alvernia. Melakukan pemeriksaan dan memerintahkan dilakukan CT scan khusus keesokan harinya (Minggu).

Satu persatu beberapa bagian tubuh saya di scan. Otak, leher, dada atas, jantung, perut dan entah apalagi. Dua jam penuh saya menjalaninya di ruang CT Scan yang dingin. Serasa beku. Dari sinilah akan ditentukan nasib saya. Apakah harus menjalani operasi terbuka di leher. Untuk membuat bypass saluran darah ke otak kanan, atau ada cara lain.

Siangnya dokter Benjamin melihat hasil CT Scan. Dia tersenyum. “Tidak perlu bypass,” katanya. Alhamdulillah, saya pun amat lega. Tapi, katanya, harus dilihat sambil jalan nanti. Apakah cukup memasang stent di sepanjang saluran darah utama, atau harus ditambah dengan pembuatan cerobong ke arah saluran darah otak.

Dokter Benjamin berusia 44 tahun. Bulan lalu, dia baru saja sukses menurunkan berat badannya. Dari 112 kg ke 96 kg. Masih ingin turun lagi lima kilogram. Dia lulusan Duke University di Virginia, AS. Saya pernah ke kampus ini dua tahun lalu. Tim basketnya juara NCAA. Kami pun punya bahan ngobrol tentang almamaternya itu. Dokter Benjamin masih memperdalam lagi ilmu saluran darahnya di Melbourne, Australia.

Baju dan celananya tampak kebesaran. Kedodoran. Kepalanya dicukur gundul. Kacamatanya cukup tebal. Dia tahu bajunya sudah tidak cocok dengan ukuran badannya now. “Kenapa tidak ganti baju?” tanya saya. “Nanti saja. Sekalian setelah turun lagi lima kilo,” katanya. “Kalau ganti sekarang istri saya bisa mengira saya punya pacar baru,” guraunya.

Kami pun kembali bicara serius. Tentang tindakan cepat untuk mengatasi rantasnya pembuluh darah utama saya.

“Saya akan lakukan tindakan Senin besok sore,” katanya. Apakah material yang akan dipasang di sepanjang saluran utama darah saya sudah siap? “Sudah,” katanya.

“Yes, Sir. I am ready,” jawab saya.

Dijelaskannya kemungkinan akan dipasang stent di sepanjang saluran utama pembuluh darah saya. Stent yang bagian atas terbuat dari bahan yang beda dengan stent bagian bawah. Panjangnya, total, sekitar 50 cm. Mulai dari belokan paling atas sampai dekat pusar di perut.

Di belokan yang letaknya sekitar 20 cm dari jantung itulah aorta saya retak. Dinding paling dalam di saluran darah itu pecah. Darah mengalir di luar jalur.

Saat pecah itulah dada sakit, punggung nyeri, sesak nafas dan seterusnya. Itu terjadi satu jam setelah saya makan banyak korma mentah di Madinah.

Apa hubungannya? Saya tidak tahu. Dokter juga tidak tahu. Mungkin kebetulan saja. Mungkin juga, saat itu perut saya perlu suplay darah ekstra banyak untuk mencerna material yang aneh-aneh di perut. Yang jelas, saluran darah saya sudah mulai menua. Kurang perawatan pula.

Sejak dua tahun lalu, sejak menjalani pemeriksaan di kejaksaan tinggi Jatim saya tahu tekanan darah saya tinggi. Saat pemeriksaan itu kepala saya berat. Saya minta didatangkan dokter.

Jaksa memanggil dokter kejaksaan. Dilakukanlah test tekanan darah. Saya kaget: 180/110. Ini tinggi luar biasa. Saya takut stroke.

Jaksa menawarkan apakah pemeriksaan perlu dihentikan. Saya jawab tidak. Hanya saja perlu istirahat dulu. Maka pemeriksaan diistirahatkan sementara. Saya diminta duduk diam di kursi ruang itu selama setengah jam. Pemeriksaan pun diteruskan lagi. Sampai malam.

Sejak itu seharusnya saya rajin minum obat darah tinggi. Tapi saya kurang disiplin. Saya baru minum kalau pemeriksaan tekanan darah saya menunjukkan tinggi. Apalagi saya harus menjalani proses hukum yang panjang.

Tekanan darah tinggi itu, dalam kurun waktu yang lama, membuat dinding saluran darah saya mengeras. Mudah retak. Terutama kalau dihantam tekanan darah yang lagi tinggi.

Itulah yang terjadi pada saya di Madinah.

Darah menghantam dinding pas di posisi belokan. Dinding retak. Darah menerobos masuk. Mencari jalan baru di antara dinding dalam dan dinding luar. Darah terus mencari jalan sendiri di sela-sela dinding itu. Merantas terus ke bawah. Bergerak liar di antara dinding dalam dan dinding luar.

“Ini memang sakit. Lebih sakit dari serangan jantung,” ujar dokter Benjamin.

Kian lama saluran darah saya membesar. Darah yang melewati saluran baru (disebut false luman) lebih banyak dibanding darah yang mengalir di saluran yang benar (true luman).

Akhirnya pasok darah untuk organ-organ di bagian perut berkurang. Lama-lama itu akan membahayakan liver, ginjal dan seterusnya. Lama-lama dinding luar itu bisa pecah. Itulah saat kematian harusnya tiba. Karena itu tindakan yang cepat diperlukan.

Seharusnya di RS Madinah itulah bisa ditemukan kalau terjadi aorta dissection. Lalu dilakukan tindakan di sana. Tapi sudah takdirnya begitu.

Harus dioperasi di Singapura. Telat sekali. Setengah bulan setelah itu.

Untuk operasi Senin sore itu harus dilakukan di RS yang masih baru di Singapura: RS Farrer Park. Di kawasan Little India.

Saya memang harus pindah rumah sakit. Tapi saya putuskan oke. Tidak perlu menunggu kedatangan istri dan anak saya yang baru dapat tiket Selasa pagi.

Robert sudah menjelaskan ke anak saya tentang operasi itu berikut resiko-resikonya. Misalnya kelumpuhan di kaki. Atau gangguan ke otak. Istri dan anak saya rasional: segera lakukan.

Tidak harus menunggu. (bersambung)