Bahagia Walau Gagal Gemuk

Lolos dari Lubang Maut Aorta Dissection (10)

Oleh Dahlan Iskan

 

Berat badan saya turun terus. Tinggal 66 kg. Dari 70 kg sebelum operasi. Saya harus melawannya. Dengan makan lebih banyak.

Tapi sampai hari ini, Rabu (14/2) selera makan saya belum pulih. Air liur  masih terasa pahit. Seperti umumnya orang yang habis sakit keras yang lama.

Saya paksakan untuk makan banyak. Biar pun tidak ada selera.

Teman-teman mengatakan saya terlalu kurus. Pipi menipis. Tapi dengan tinggi 168 cm sebenarnya itulah berat ideal saya. Menurut kaidah kesehatan. Hanya saja karena belum pernah sekurus ini rasanya seperti orang habis sakit.

Memang. Kalau saja saya sudah  bisa olahraga seperti dulu, kekurusan badan saya ini sedikit tertutupi oleh otot yang terbentuk. Sayangnya saya belum bisa ikut senam secara penuh.

Sesekali saya memaksakan diri bergabung dengan grup senam saya tapi hanya untuk ikut pemanasannya. Kadang bisa sampai akhir tapi dengan porsi gerak hanya 25 persennya.

Saya temui dokter Benjamin. Konsultasi soal turunnya timbangan itu. Jangan-jangan ada bahaya lain di baliknya. “Kalau sampai sebulan ke depan masih terus turun kita periksa lebih detil,” ujar Dr dr Benjamin Chua, yang mengoperasi aorta saya.

Yang harus diingat, katanya, saya adalah mantan penderita kanker  stadium akhir. Kanker hati. Yang waktu itu, 11 tahun lalu, diatasi dengan cara mengganti hati yang penuh kanker itu dengan hati baru milik orang yang meninggal.

Logikanya benih-benih kanker itu sudah beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.

Sejauh ini tidak ada tanda-tanda benih kanker itu muncul kembali. Setiap enam bulan saya check-up  ke rumah sakit di Tianjin, Tiongkok. Diteliti kemungkinan muncul kembalinya kanker itu. Tidak ditemukan.

Tapi dengan pecahnya aorta saya di Madinah akhir Desember lalu kondisi badan saya sangat drop. Apalagi aorta dissection itu baru ketahuan setengah bulan setelah kejadian.

Dengan kondisi badan yang lagi drop segala penyakit bisa muncul tanpa perlawanan dari sistem imunitas tubuh. Apalagi sejak ganti hati itu saya minum obat untuk menurunkan imunitas badan. Setiap hari.

Yang juga saya khawatirkan adalah banyaknya obat yang saya minum selama proses penyelesaian aorta dissection ini. Pasti mengganggu sistem tubuh saya. Termasuk akibat banyaknya cairan kontras yang masuk ke tubuh saya selama saya menjalani CT scan yang berulang kali.

Pernah, untuk persiapan operasi, CT Scannya empat kali. Berarti empat kali juga cairan kontras dimasukkan ke darah saya. Itulah cairan yang berasal dari proses nuklir. Mengandung radiasi. Untuk membuat kamera bisa membedakan mana bagain tubuh yang bemasalah dan mana yang normal.

Di Tianjin, saya hanya boleh menjalani CT Scan enam bulan sekali. Agar tidak terlalu sering ada cairan kontras yang masuk tubuh. Itu pun setiap kali mau CT Scan diingatkan agar membawa air minum 1,5 liter.
Begitu CT Scan selesai air sebanyak itu harus diminum. Untuk membersihkan penguruh cairan kontras dari dalam darah.

Sedang di Singapura ini, sekali CT Scan langsung empat seri, berarti empat kali pula dimasuki cairan kontras. Hanya dalam waktu dua jam. Padahal dua hari sebelumnya sudah menjalani proses yang sama. Begitu banyak cairan kontras yang masuk tubuh saya.

Di Singapura dokter tidak mengingatkan perlunya minum banyak air setelah CT Scan. Tapi  Robert Lai menyiapkannya. Teman saya itu sudah terbiasa merawat saya di Tianjin. Tahu apa yang harus dilakukan.

Tapi empat kali dimasuki cairan kontras hanya dalam waktu dua jam membuat saya khawatir. Tidak mungkin saya minum 1,5 liter x 4 sekaligus.

Kembali ke soal berat badan yang merosot terus. Apa yang paling dikhawatirkan dengan terus turunnya berat badan? “Terus terang kita harus mulai waspada dengan kanker,” kata dokter Benjamin Chua. “Apalagi Anda punya riwayat itu,” tambahnya.

Tapi Benjamin minta saya bersabar dulu. Jangan panik. Tunggu sebulan lagi. Apakah berat badan masih terus turun.

Saya pun pulang ke Indonesia. Untuk ikut Hari Pers Nasional di Padang. Yang puncaknya dihadiri Presiden Jokowi. Saya, kata teman-teman, sebaiknya hadir. Saya adalah Ketua Umum Serikat Perusahaan Pers.

Soal kesehatan saya, satu tim dokter disiapkan.  Yang melakukan pemeriksaan tekanan darah dll tiga kali sehari.

Saya bersyukur bisa hadir di Padang. Termasuk bisa ikut pertemuan khusus lima wartawan senior dengan Presiden Jokowi. Tentu saya tidak akan beberkan jalannya pertemuan. Atau pembicaraan khusus itu. Itu pertemuan tertutup. HP pun harus ditinggal di luar ruangan.

Saya bahagia bisa empat hari di Padang. Bertemu teman-teman pers dari seluruh Indonesia.

Hanya saja program menaikkan berat badan saya gagal. Air liur saya yang masih pahit tidak cocok dengan jenis nasi di sana yang dalam bahasa Kalimantan, disebut karau.

Di Jawa saya suka masakan Padang karena nasinya sudah disesuaikan dengan selera lokal: tidak suka nasi karau.Tidak pulen.

Saya pun tiap hari makan lontong. Atau ketupat. Dengan lauk monoton: sate padang…yang hanya saya ambil sausnya…untuk makan ketupat itu. (Bersambung)

Selang Rp 500 Juta di Pembuluh Saya

Lolos dari Lubang Maut Aorta Dissection (9)

Oleh Dahlan Iskan

Kembali opname, saya langsung diinfus delapan botol. Dokter Mohammed Tauqeer Ahmad, ahli syaraf itu, yakin itu bisa mengatasi keluhan beratnya tengkuk saya.

Soal masih datang-perginya panas, mungkin terjadi infeksi. Di satu atau beberapa titik di  sepanjang saluran darah utama saya yang tercabik-cabik tanpa ketahuan selama 15 hari itu. Untuk memastikannya, tiap hari dilakukan pengambilan darah.

Kalau pun bukan infeksi siapa tahu flu. Atau ada virus tertentu. Misalnya virus Australia yang lagi mewabah. Atau virus dari Arab Saudi.

Hasil test darah itu ternyata bagus: semuanya nihil.

Dilakukan juga USG. Untuk melihat seluruh saluran darah yang sudah dipasangi stent. Juga tidak ditemukan pertanda infeksi.

Kesimpulan terakhir: ada pembengkakan di beberapa tempat di sepanjang saluran yang di-stent. Ini wajar mengingat saat stent dipasang luka-luka akibat retasan darah sudah berumur 15 hari. Darah sudah mengalir zig-zag di antara dinding dalam dan dinding luar aorta.

Setelah diberi obat  untuk mengatasi pembengkakan temperatur saya stabil. Lalu boleh meninggalkan rumah sakit lagi. Sudah mulai bisa makan di restoran. Sudah bisa undang anak jenius Surabaya yang lagi di Singapura, Audry, untuk makan siang. Dengan selera makan sekedarnya. Liur masih pahit.

Saya juga mulai bisa bercanda dengan Robert Lai. Dialah yang selalu mengatakan bahwa dia akan mati lebih dulu. Kini ganti saya yang bilang: dengan sakit saya yang terakhir ini hampir pasti sayalah yang akan mati lebih dulu.

Tiga hari sekali saya kontrol ke klinik Dokter Benjamin. Saat itulah saya ingat bahwa dia punya contoh barang yang dipasang di aorta saya.

Saya ulangi permintaan untuk melihat wujud stent yang dipasang di tubuh saya itu.
“Apakah dokter benar-benar  punya contoh material stent yang dimasukkan ke saluran darah saya?”

“Punya,” katanya sambil membuka laci di belakang tempat duduknya.

Dia pun mengambil barang itu. Menyerahkannya ke saya.

Ya …. Allah! Jauh beda dengan yang saya bayangkan! Saya pikir mirip stent yang dipasang di jantung! Ternyata sama sekali beda.

Yang ini lebih mirip selang pemadam kebakaran! Yang diberi pelindung rangkaian kawat di luarnya. Rangkaian kawat itu bisa dipenyet tapi tidak penyet. Setelah dipenyet pun dia akan balik ke posisi seperti selang. Ini penting. Agar saat stent dimasukkan  posisinya dalam keadaan terpenyet.

Setelah benda pengantarnya ditarik, rangkaian kawat itu mengembang menjadi seperti selang. Fungsinya pun berubah: menjadi dinding terdalam saluran darah.

Dengan demikian darah yang sejak 15 hari sebelumnya lebih banyak mengalir di sela-sela dinding (false luman) kembali mengalir di tengah-tengah selang baru ini.

“Ini hanya contoh. Aslinya, yang dipasang di badan Anda, tiga kali lebih besar dari ini,” kata dokter Benjamin.

Selang yang dipasang di saluran darah utama saya itu panjangnya sekitar setengah meter.

Tapi tidak semua sama. Bagian paling atas, sepanjang 20 cm, berupa selang khusus. Terbuat dari bahan poleyster khusus. Tipis sekali. Warna putih. Semula saya pikir itu kain. Atau kertas. Ternyata bukan. Itu poleyster tipis. Di luarnya ada rangkaian kawat yang dijahitkan ke poleyster itu. Desain stent ini dari Amerika tapi dibuat di Australia.

Pada dasarnya kerangka rangkaian kawat itu yang berfungsi menormalkan bentuk saluran darah. Tapi lapisan poleyster diperlukan karena kondisi bagian atas aorta saya sudah menua. Sudah keras. Mudah retak.

Dengan lapisan poleyster itu darah saya yang bertekanan tinggi tidak bisa lagi menyentuh langsung dinding saluran darah yang sudah menua itu. Aliran darah itu akan menghantam poleyster yang melapisinya. Kuat.

Baru di bagian di bawahnya stent yang dipasang tanpa poleyster. Hanya rangkaian kawat yang menyerupai selang. Darah yang mengalir tetap langsung bersentuhan dengan dinding saluran darah. Tapi tidak berbahaya. Bagian bawah saluran darah saya masih belum menua.

Saya bisa membayangkan bagaimana dokter Benjamin Chua  memasukkan selang begitu besar dan panjang ke saluran utama darah saya. Teknologi kedokteran sudah begitu majunya.

Tentu saya bertanya berapa harga “selang” sepanjang 50 cm itu. “Selangnya” saja. Tidak termasuk rumah sakit dan dokternya.

Jawabnya: sekitar Rp 500 juta. Berarti, barang itu, tiap 1 meter seharga Rp 1 miliar.

Rasanya inilah selang termahal.

Padahal seluruh saluran darah seorang manusia panjangnya sekitar 200 km. Besar dan kecil. Berarti total harga saluran darah manusia itu  400.000 x Rp 500 juta = Rp200 triliun.

Itulah nilai pemberian Tuhan ke manusia. Hanya dalam bentuk saluran darah. Belum yang lain.

Itu pun baru harga palsunya. Belum harga yang asli pemberian Tuhan. (bersambung)

Tergoda Lanzhou Lamian Satu-satunya

Lolos dari Lubang Maut Aorta Dissection (8)

Oleh Dahlan Iskan

 

Robert Lai mengabarkan kesuksesan operasi itu ke keluarga saya di Surabaya. Yang sedang menata barang untuk dibawa ke Singapura keesokan harinya.  Malam itu juga saya dipindah ke ICU. Untuk dua malam. Ketika istri dan anak saya tiba, saya sudah di ICU. Sudah bisa bercanda.

“Bawa tajin?” canda saya ke istri yang pekan sebelumnya bikin tajin tiap hari.

“Alhamdulillah saya lolos lagi dari lubang kematian,” kata saya.

Istri saya hanya nyengir.

Keesokan harinya saya sudah boleh pindah ke kamar biasa.  Perasaan saya nyaman. Indikasi di layar monitor juga baik. Lusanya, pagi-pagi satu persatu selang dilepas.

Rasanya lega sekali. Terutama setelah selang yang dimasukkan lewat lubang kemaluan dicabut. Itulah selang untuk mengalirkan air kencing selama dioperasi.

Sebelum selang di kemaluan dicabut saya ketakutan tanpa alasan. Padahal saya pernah merasakannya di Tianjin.

Tidak sakit.

Tapi kali ini saya ingat ayah. Almarhum. Bayangan saya tiba-tiba tertuju ke penderitaan ayah. Suatu saat, ayah saya dikateter seperti itu. Umurnya, saat itu, sudah hampir 80 tahun.

Ayah, sebenarnya tidak mau dibawa ke rumah sakit. Apalagi opname. Ayah selalu mengatakan sudah siap dipanggil Yang Maha Kuasa. Kapan saja.

Tapi saya masih melihat peluang sembuh. Saya masukkan RS.

Pagi-pagi darah berceceran di tempat tidur. Juga di lantai. Ayah ternyata mencabut paksa kateter itu tengah malam.

Pasti sakit sekali.

Pasti menderita sekali.

Ayah tipe orang yang tidak pernah mengeluh. Dia tahan semua jenis sakit seperti itu.  Perawat pada marah. Menyalahkan ayah saya. Saya cegah mereka agar jangan marah lebih lanjut. Saya tahu ayah saya orang desa. Pelosok.

Dengan pengetahuan kesehatan yang minim. Beliau sangat taat beragama. Sangat menjaga diri dari najis. Saya kira, dengan kateter di kemaluannya itu, ayah merasa dirinya kotor. Tidak suci. Tidak bisa berwudlu. Dan seterusnya.

Saya memahaminya.

Saat kali ini suster menarik selang dari kemaluan saya, bayangan ayah yang lagi menarik paksa kateternya itu memenuhi pikiran saya. Aduh, ayah, alangkah sakitnya saat itu.

Setelah keluar ICU, Isna, anak saya, mengambil alih beberapa tugas Robert. Yang sudah tiga hari kurang istirahat. Istri saya tinggal di hotel yang satu gedung dengan rumah sakit. Hari kelima, saya sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Saya pun gabung istri di hotel. Bisa tidur nyenyak. Tidak ada perawat yang tiap dua jam mengetuk pintu.

Keesokan harinya Isna bertanya: pengin makan apa. Sudah sekian lama saya hanya makan makanan rumah sakit. Atau makan makanan yang dikirim Meiling, teman baik saya lainnya di Singapura.

Meiling adalah teman lama sejak saya sakit di Tianjin. Dia kawin dengan orang Singapura. Menjadi warga negara Singapura. Kini dia sudah punya dua anak. Suaminya, Daniel, seorang pengusaha besar. Sehari dua kali Daniel mengirim rantang masakan ke rumah sakit.

“Saya ingin makan mie,” jawab saya pada Isna.

“Tolong cari di internet di mana ada restoran Lanzhou Lamian. Sudah lama saya jatuh cinta pada Lanzhou Lamian.”

Lanzhou adalah nama kota di wilayah barat Tiongkok. Yang mayoritas penduduknya muslim. Lamian berarti “mie tarik”. Mie tarik Lanzhou. Isna tahu itu. Isna juga sangat suka Lanzhou Lamian. Dengan rasa daging sapinya yang khas. Setiap ke Tiongkok Isna tahu di mana ada Lanzhou Lamian di kota yang dituju.

Saya sendiri walau sedang di AS  sering mencari Lanzhou Lamian. Biasanya di China Town. Yang paling enak di Chicago! Tentu saya sudah beberapa kali ke Lanzhou. Sudah tahu rasa Lanzhou Lamian yang paling asli.

“Hanya ada satu restoran Lanzhou Lamian di Singapura,” kata Isna sambil melihat layar HP.

“Adanya di China Town. Kita ke sana. Naik mobilnya Robert Lai. Nisssan baru. Yang bisa diisi 6 orang.”

Sepanjang perjalanan kepala saya ternyata terasa berat. Tengkuk saya tegang. Saya coba tahan. Saya diam saja sepanjang perjalanan. Cuaca lagi jelek. Hujan rintik-rintik. Sudah lebih seminggu tidak ada matahari di Singapura. Hujan dan hujan. Sepanjang hari. Sampai ada banjir segala. Dengan google map kami pun menemukan satu-satunya restoran Lanzhou Lamian.

Saya ingin juga minum teh China yang panas. Pas dengan kondisi badan saya yang lagi berat. Kekecewaan pun datang. “Tidak ada teh yang Anda maksud” jawab pelayannya. Aneh. Hanya ada satu jenis teh China di sini.

Ya, sudah. Nurut saja.

Lalu saya pesan Lanzhou Lamian yang daging sapi. Itulah khasnya. Rasa dagingnya beda. Sapi sekali.

Sebetulnya itu bukan daging sapi, tapi daging semacam bison. Warna binatangnya seperti sapi tapi agak hitam. Bulu di bagian leher dan kepalanya lebat dan panjang. Tampak lebih menakutkan dari sapi biasa.

Di padang pasir sekitar Lanzhou banyak sekali sapi bison seperti itu.

“Tidak ada daging sapi di sini. Hanya ada ayam atau babi,” kata pelayan.

Hah? Tidak ada daging sapi? Bukankah Lanzhou Lamian tanpa daging sapi bukan lagi Lanzhou Lamian? Sudah terlanjur duduk. Sudah kecewa dua kali. Tidak ada wulong tea dan tidak ada daging sapi.

“Ini restoran palsu,” kata saya dalam hati.

Cita-cita sudah terlanjur tinggi. Bayangan makan Lanzhou Lamian terlanjur menitikkan air liur. Kepala saya yang berat terasa kian berat. Saya hanya diam terpaku di situ. Sambil menyandarkan kepala ke dinding.

Orang satu meja mengira saya gondok karena kecewa. Yang benar: saya marah! Tapi yang lebih benar, saya lagi tidak sehat. Kondisi saya memburuk.

Begitu teh disajikan, ampuuuun, ini bukan Chinese tea. Tidak panas pula. Saya tambah menyandar ke dinding. Begitu mie disajikan, ampun-ampun deh. Dari warnanya saja ini sudah palsu! Apalagi rasanya.

Posisi badan saya kian melorot. Tidak mau bicara. Tengkuk kian berat. “Saya bukan marah, tapi sakit,” kata saya pada Robert.

Robert berdiri meninggalkan meja. Saya tahu dia pasti cari obat. Mudah-mudahan minyak kayu putih atau minyak cap macam. Sahidin, sopir saya di Surabaya yang ikut ke Singapura, memijiti tengkuk saya.

Robert ternyata balik membawa koyok. Dia tempel berlapis di tengkuk dan punggung. Terasa hangat. Kami pun pulang ke hotel. Dengan penuh kekecewaan dan penderitaan.

Sepanjang perjalanan Isna melakukan kontak dengan dokter Benjamin. Menurut Isna, saya disarankan langsung masuk UGD di Farrer Park Hospital.

Dokter ahli syaraf akan menyusul ke UGD. Namanya: Dr Mohammed Tauqeer Ahmad. Kelahiran New Delhi, pendidikannya di Inggris dan kini warga negara Singapura.

Benjamin punya logika sendiri mengapa ia mengirim ahli syaraf. Mungkin darah saya kekurangan cairan. Akibat operasi. Juga karena kurang minum. Mungkin juga karena tidak ada infus sejak keluar dari ICU.

Kami pun langsung ke UGD. Dibaringkan di tempat tidur UGD. Sakit saya hilang. Tapi begitu saya coba untuk duduk, sakitnya terasa lagi. Sambil menunggu kedatangan dokter Ahmad, saya terus berbaring.

Setelah melakukan pemeriksaan dokter, Ahmad menyarankan agar saya opname lagi di rumah sakit. Yang baru saya tinggalkan tadi malam. Dia akan menginfus saya sampai tiga hari. Sekaligus menuntaskan demam saya yang suka timbul tenggelam. Sesekali temperatur saya masih mendekati 38.

Saya nurut. Masuk RS Farrer Park lagi. Di kamar yang sama.

Ngamar lagi. Beberapa perawat menyambut saya dengan bergurau: welcome home! (bersambung)