Pilih Program TV Berkualitas dengan Jempolmu

MASYARAKAT kini sedang dibuat resah. Bulan lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memutuskan menghentikan salahsatu program televisi swasta. Dalam putusannya, KPI menyatakan untuk menghentikan program tersebut dan tidak menggantinya dengan format acara yang sama. Seketika itu masyarakat ada yang bersorak sorai, ada pula yang kecewa. Mereka yang senang dengan putusan KPI ini menganggap program televisi tersebut tidak mendidik masyarakat, senang menunjukkan hal-hal yang dianggap tidak pantas seperti membully, laki-laki berdandan seperti perempuan, dan yang membuat mereka diputuskan dihentikan programnya adalah menyamakan seseorang dengan binatang. Hal ini jelas melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang menyatakan disalahsatu ayatnya untuk tidak menganalogikan manusia dengan binatang. Dibalik yang sorak sorai, ada pula yang sedih dan kecewa. Mereka yang kecewa ini menyesalkan keputusan KPI karena kehilangan salahsatu program hiburan favoritnya. Ya, inilah Indonesia. Disatu pihak ada yang tidak ingin moral masyarakat rusak akibat tayangan hahahihi ini, disatu pihak ada yang tidak ingin kehilangan hiburan dari kotak ajaib yang disebut televisi setelah penat bekerja atau berkegiatan seharian penuh.

Namun namanya Indonesia, penegakan hukum disini masih sangat lemah. Dinyatakan dalam putusan KPI untuk tidak membuat program dengan format acara yang sama, stasiun televisi yang berkaitan malah membuat program acara yang jika dilihat secara seksama format acaranya persis sama. KPI seakan tidak bisa berbuat apa-apa karena wewenangnya yang terbatas. KPI hanya bekerja ketika ada laporan dari masyarakat. Ketika laporan dari masyarakat itu masuk ke meja KPI, baru lembaga penyiaran tersebut memanggil pihak stasiun televisi tersebut untuk mendengarkan kesaksiannya. Prosesnya belum selesai, jika memang terbukti bersalah maka akan diberi hukuman mulai dari peringatan, pengurangan durasi tayang, hingga pemberhentian program acara tersebut. Yang paling berat, bisa merekomendasikan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) untuk dicabut izin penyelenggaraan penyiarannya. Jika sudah dicabut, stasiun televisi tersebut otomatis harus ditutup. Namun opsi terakhir ini berada di kewenangan Kemenkominfo.

Tak hanya program-program hiburan saja yang disorot, program berita pun sekarang lebih diperhatikan oleh KPI, apalagi dalam masa pemilu seperti ini. Publik diberikan informasi yang tidak jelas. Di satu sumber menyebutkan A, di sumber yang lain menyebutkan B. Televisi yang satu menyebutkan dia salah dan aku benar, di televisi yang lainnya menyebutkan hal yang sama. Media khususnya media televisi telah sampai pada tahap perang media, khususnya media televisi yang sudah berafiliasi dengan partai politik. Padahal media, oleh pakar Komunikasi Onong Effendy menyebutkan fungsi media itu yakni to inform (menginformasikan), to educate (mengedukasi), to influnce (mempengaruhi), dan to entertain (menghibur). Menginformasikan, jika dijabarkan lebih lanjut memberikan informasi yang benar kepada masyarakat, menjawab pertanyaan publik, dan menginformasikan secara netral. Dalam pers pun juga dianut asas cover both side, atau ada juga yang menyebut cover all side. Hal ini menunjukkan harus ada keberimbangan informasi yang disampaikan oleh media tersebut. Jika di media cetak untuk hari pertama, salahsatu calon presiden misalnya diberikan space yang luas, dihari esoknya calon presiden yang lainnya berhak dan wajib diberikan space yang sama. Jika di televisi, jika program berita tersebut berdurasi 3 menit, maka bisa saja dibagi dua. Satu setengah menit pertama untuk calon presiden yang satu, satu setengah menit kedua untuk calon presiden yang lainnya. Atau bisa saja 3 menit untuk satu calon, namun setelah itu ada 3 menit berikutnya untuk calon yang lain. Itulah yang disebut keberimbangan. Setelah proses to inform itu berjalan, efek berikutnya yakni to influence. Masyarakat yang awam mungkin akan mudah terpengaruh dari informasi yang beredar. Namun untuk masyarakat yang berpendidikan, adanya literasi media atau usaha untuk melek media menjadi penting untuk menyaring informasi-informasi yang ada.

Sebenarnya, tidak perlu adanya KPI pun masyarakat sudah harus cerdas dalam menentukan pilihannya sendiri. Publik punya senjata yang lebih ampuh agar stasiun televisi bisa memberikan program-programnya yang berkualitas dan memberikan informasi yang benar. Remote TV. Ya, dengan “senjata” ini publik bisa dengan bebas memilih program-program siaran yang berkualitas dan mencari informasi yang benar. Jika tidak suka dengan salahsatu program, ganti saja kanal TV anda dengan kanal TV yang lebih berkualitas. Efeknya, rating dan share yang didewa-dewakan oleh stasiun televisi tersebut bisa menurun. Stasiun televisi pasti berpikir dua kali untuk membuat program hiburan yang hanya menghibur namun tidak mendidik dan berita yang membuat informasi di masyarakat menjadi kabur. Di kesempatan Hari Melek Media (HMM) 2014 yang diperingati oleh Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) ini, sudah waktunya masyarakat gunakan jempolnya untuk memilih program berkualitas. Kekuasaan itu ada di jempol anda. Selamat Hari Melek Media 2014! (***)

 

(***) : Tulisan ini juga diterbitkan di Bontang Post, 17 Juli 2014 hal. 16 Ekspresi.

16 - EKSPRESI (17 juli 2014)

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *