Kelud Meletus, Ke Makassar Pupus

Sebelum meneruskan  menulis perjalanan ini, mari kita sama-sama berdoa kepada seluruh masyarakat yang terkena dampak letusan Gunung Kelud pada 13 Februari lalu. Semoga aktivitas dan kegiatan perekonomian bisa kembali berjalan dan tetap diberikan kesehatan dan keselamatan untuk kita semua. Amin.

Saya termasuk yang menjadi korban letusan gunung yang terletak diantara Blitar, Kediri, dan Malang ini. Bukan menjadi korban dalam arti terkena letusannya, melainkan menjadi korban efek dari letusan Kelud yang terbesar ini. Kita tahu sendiri akibat dari letusan ini, seluruh penerbangan dari dan menuju seluruh bandara di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat semua dibatalkan. Termasuk penerbangan saya yang sedianya berangkat dari Juanda Surabaya menuju Makassar 14 Februari kemarin. Rencana penerbangan saya menggunakan maskapai berbiaya murah asal Malaysia ini berangkat pukul 18.00 WIB. Namun ternyata hujan abu sudah mencapai Bandara Juanda Surabaya sekitar 12 jam sebelumnya. Tentu sebagai penumpang saya gelisah, “Apakah saya jadi berangkat ke Makassar?”. Saya memutuskan untuk menelpon travel dan diberikan saran untuk tetap ke Bandara memastikan apakah jadi berangkat atau tidak.

Bersama dengan tiga teman saya yang lain, kami pun berangkat menuju Juanda Surabaya pukul 12.45 WIB, persis selepas Solat Jumat. Kami sampai di Bandara Internasional tersebut sekitar pukul 15.30 WIB. Turun dari travel, kami langsung mencari kantor maskapai yang terletak di Terminal 2 Juanda, terminal baru dan megah yang sejatinya diresmikan hari itu. Tidak lama untuk antre di kantor maskapai tersebut, kami pun diberikan opsi untuk me-reschedule (atur ulang) jadwal penerbangan, atau uang tiket saya senilai 700ribu itu disimpan untuk penerbangan lainnya dan berlaku hanya 3 bulan. Kami pun akhirnya memilih untuk me-reschedule jadwal menjadi besok siang pukul 12.45 WIB. Kami pun akhirnya memutuskan menginap semalam di rumah seorang teman di Surabaya.

Keesokan harinya, kami tidak mendengar dan melihat berita seputar Juanda. Kami pun sudah optimis bisa berangkat kali ini karena bandara ternyata sudah bersih dari abu vulkanik gunung Kelud. Kami pun berangkat pukul 10.00 WIB dari rumah teman saya itu. Namun dalam perjalanan,awan hitam pekat tampak menggantung di langit Surabaya. perlahan hujan pun turun membasahi Kota Pahlawan itu. Kami pun khawatir kembali, “Bisakah kami berangkat hari ini?”. Sesampainya di Juanda, tepatnya di Terminal 2, kami kembali ke kantor maskapai tersebut dan mendapat jawaban tidak memuaskan. Bandara Juanda masih ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan akibat cuaca buruk. Benar saja, saat kami di dalam bandara, badai datang. Petir datang bersahut-sahutan, hujan angin yang sangat deras pun datang. Tidak mungkin memang melakukan penerbangan disaat seperti ini. Namun akibat dari badai ini juga positif, setidaknya Surabaya dan bandara dibersihkan dari debu-debu vulkanik yang tersisa. Kami pun ditawarkan untuk reschedule jadwal kembali. Kali ini, kami menolaknya. Sebab jika kami memaksakan berangkat besok, acara sudah selesai, dan tidak ada jaminan bahwa bandara besok masih ditutup atau sudah dibuka. Kami pun meminta opsi refund (pengembalian uang) ke pihak maskapai, namun harus melalui form online yang sudah tersedia. Akhirnya 15 Februari, kami gagal untuk ke Makassar. Kami memutuskan untuk kembali ke Malang dengan Bis Patas. Hari itu, kami mendapat pengalaman baru; Manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Soal refund tersebut, kami pun terus berusaha mengecilkan kerugian, meski kami sangat dirugikan tenaga, waktu, dan biaya. Namun karena alasan keselamatan, kami terima dengan lapang.

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *