SNMPTN Tulis Tidak Diambil, Baru Dua Minggu Ditawari Jadi Wartawan

Berkuliah di Malang, Jawa Timur merupakan impian sejak kecil. Apalagi di Kota Bunga ini terdapat banyak sekali perguruan tinggi berkualitas. Sama halnya dengan teman-teman saya yang ingin memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN), saya juga demikian. Waktu diumumkan tidak lulus Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN) jalur undangan saat di SMA lalu, saya tidak putus asa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti SNMPTN jalur tes tulis dengan mengambil dua pilihan; pertama, Universitas Brawijaya (Unibraw) jurusan Ilmu Komunikasi, dan kedua, Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Teknologi Pendidikan. Dari mulai pendaftaran hingga print-out kartu ujian, ternyata masih ada keragu-raguan; benarkah saya sudah mengambil pilihan yang tepat?

Muhammad Zulfikar Akbar, Malang

UNTUK berjaga-jaga, saya akhirnya juga mendaftar di salahsatu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ternama di kota yang sama, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), dengan mulus saya diterima masuk sebagai mahasiswa UMM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, SNMPTN jalur tes tulis belum dimulai.

Pilihan saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi ini juga bukan tanpa dasar. Guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah, rekan-rekan wartawan, dan teman-teman lain menilai saya lebih cocok di jurusan ini. Saya juga lebih sreg memilih jurusan ini ketimbang harus mengambil jurusan Teknik Informatika yang notabene sudah akrab dengan saya sejak kecil. Orangtua sempat tidak setuju dengan pilihan saya. Namun dengan usaha saya mengikuti program Student Journalism Bontang Post, saya bisa membuktikan kepada kedua orangtua saya kalau pilihan saya tidak main-main. Akhirnya, orangtua saya merestui saya di jurusan ini dan siap mendukung selama saya berkuliah.

Lazimnya persiapan untuk mengikuti tes tulis SNMPTN tersebut, saya memutuskan untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) intensif selama satu bulan. Tapi saya tidak bimbel selama satu bulan, melainkan hanya dua minggu! Bimbel tersebut seharusnya sudah dimulai pada 7 Mei, namun saya baru ke Malang pada15 Mei. Hilang sudah satu minggu untuk mengikuti bimbel. Seminggu setelah saya masuk bimbel, saya harus izin tidak bimbel lagi karena mengikuti Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) UMM. Program ini khusus mahasiswa baru dan diasrama selama seminggu di kampus. Usai P2KK, saya kembali mengikuti bimbel di minggu terakhir. Di minggu ini, saya benar-benar pasrah hasil dari SNMPTN tulis nanti. Sebab melalui hasil uji coba yang dilakukan pihak bimbel, saya masih belum bisa menembus passing grade yang ditentukan.

Akhirnya, tes tulis SNMPTN dimulai. Selama dua hari pelaksanaan tes, saya hampir tidak bisa mengerjakan semua soal-soalnya. Saya sudah pasrah dengan hasil tes tertulis itu. Bahkan sebelum tes tulis tersebut, saya sempat mengalami kemacetan dijalan menuju lokasi tes. Untungnya saya sampai tepat waktu. Akhirnya, datang waktu pengumuman 7 Juli lalu, hal yang mengagetkan terjadi. Saya dinyatakan lulus tes tertulis tersebut! Tapi saya dapat di pilihan kedua; UM jurusan Teknologi Pendidikan.  Saya sendiri merasa tidak cocok dengan kampus dan jurusan ini. Akhirnya saya lepas SNMPTN tulis ini, dan memutuskan untuk di UMM.

Di UMM, ternyata sangatlah mudah menemukan teman-teman baru. Melalui kegiatan P2KK, seluruh mahasiswa baru dari berbagai jurusan dikumpulkan menjadi satu. Hari pertama kegiatan, semua mahasiswa baru ini digolongkan ke beberapa kelas dan disatukan dalam beberapa kamar asrama. Didalam kamar asrama itu terdiri dari 2-6 orang. Sedangkan dalam satu kelas, terdiri dari 25-30 orang. Sangat senang ketika bisa berkenalan dengan teman-teman baru dari seluruh pelosok nusantara. Teman saya ada yang dari Aceh, Riau, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Sampit, Palangkaraya, Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan, Makassar, Manado, Gorontalo, Maluku, Lombok, Bali, Jayapura, sampai Nabire dan Merauke. Kami semua membaur jadi satu keluarga dengan kegiatan ini. Bisa dikatakan, inilah keluarga pertama saya di UMM. Selepas dari kegiatan ini pun masih sering jalan bareng, komunikasi masih jalan, dan melakukan aktivitas bersama-sama.

Hal yang aneh terjadi selama saya mengikuti kegiatan P2KK tersebut. Saya saat itu terkena Deja Vu. Deja Vu sendiri berarti suatu kejadian yang sudah pernah terjadi tapi terjadi untuk kedua kalinya. Tepatnya Desember 2011 lalu, sebelum mendaftarkan diri di UMM saya mendapatkan suatu mimpi. Mimpi tersebut masih jelas diingatan saya sampai saat ini. Di mimpi tersebut saya berada disuatu ruangan kelas kuliah. Lazimnya ruangan kuliah, pasti ada dosen, juga ada mahasiswanya. Begitu juga yang saya lihat, ada dosen yang sedang mengajar menggunakan perangkat LCD, mahasiswanya menggunakan almamater berwarna merah, karpet ruangan juga berwarna merah. Mimpi itu terjadi sampai tiga hari berturut-turut. Setelah saya mendaftarkan diri di UMM secara online, mimpi itu tidak terjadi lagi.

Lima bulan setelahnya, mimpi tersebut menjadi nyata, dan saya seolah terkena Deja Vu tersebut. Kejadian itu terjadi saat mengikuti hari kedua P2KK. Tiba-tiba saja saat dosen sedang menjelaskan materi P2KK, pikiran tentang mimpi itu hadir. Mungkin inilah yang coba ditunjukkan Tuhan kepada saya. Bahwa jalan saya mengambil UMM sudah tepat dan Tuhan sudah meridhoi pilihan saya.

Untuk urusan penguasaan teknologi, ternyata anak Bontang tidak kalah dengan anak Malang. Waktu itu di UMM sedang Pelatihan Aplikasi Teknologi Informasi (PATI) untuk mahasiswa baru. Sudah tentu saya termasuk di dalamnya sebagai peserta. Di PATI ini dikenalkan fasilitas teknologi dan multimedia yang dipunyai oleh UMM, untuk mendukung kegiatan perkuliahan.

Saat di pelatihan itulah, ada salahsatu problem teknis datang. Koneksi internet tiba-tiba putus disalahsatu komputer. Teknisi laboratorium komputer pun bahkan tidak mampu memperbaikinya. Karena hampir semuanya menyerah, saya coba melihat problem komputer tersebut, dan tanpa waktu lama, koneksi internetnya kembali seperti semula. Teknisi bahkan trainer pelatihan tersebut pada bingung, “Kok bisa, Zul? Kamu apain?” mereka bertanya kepada saya. “Cuma di utak-atik dikit aja kok. Gampang aja itu,” jawab saya enteng.

Saat dalam pelatihan pun demikian, kata trainer saya, nilai praktik dan ujian di pelatihan ini mencapai nilai tertinggi dalam sejarah PATI. Biarpun jurusan saya bukan teknik, tapi saya bisa menguasi beberapa teknik komputer dan informatika. Bontang memang tidak kalah canggihnya sama Malang!

DITAWARI JADI WARTAWAN

Baru dua minggu berada di Malang, saya sudah ditawari menjadi bagian dari Malang Post (Jawa Pos Group).  Kejadiannya bermula saat saya memang berencana untuk menemui redaksi dari Malang Post. Pertama kali saya melihat kantor redaksi Malang Post, bangunannya terlihat sudah sangat tua dengan bentuk memanjang dan lantai satu. Dan sama seperti bangunan Jawa Pos Group lainnya, selalu ada warna biru di beberapa bagian bangunannya. Saat saya pertama kali masuk, saya disambut oleh wartawan olahraga Malang Post, Pak Jhon namanya. Ia merupakan wartawan olahraga Malang Post. Katanya, ia pernah ke Bontang sekali saat Arema melawat ke Bontang dalam pertandingan Liga Super Indonesia dahulu. Setelah itu saya dikenalkan dengan Pak Sri, redaktur utama Malang Post. Misi saya di Malang Post hanya dua; silaturahmi, dan promosi Bontang Post.

Dihadapan kedua redaksi Malang Post ini, saya berikan beberapa sampel berita yang saya tulis selama mengikuti Student Journalism Bontang Post. Totalnya, ada 20 sampel yang saya bawa. Seharusnya, ada lebih dari 20 berita yang saya tulis, namun tidak saya kliping. Baik Pak Jhon maupun Pak Sri sangat takjub dengan tulisan saya, juga perkembangan media cetak di Bontang.

“Ini baru setahun Bontang Post berdiri? Kok kualitas berita dan layoutnya seperti bertahun-tahun?” kata Pak Sri waktu itu.

“Di Bontang banyak yang tertarik jadi wartawan? Kami Di Malang aja susah nyari yang mau jadi wartawan,” Kata Pak Jhon.

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang dilontarkan oleh kedua redaksi ini. Mereka juga antusias menanyakan bagaimana Bontang Post bisa sedemikian pesatnya dibanding media ditempat lain. Bagaimana bisa siswa SMP dan SMA bisa menjadi wartawan, bahkan contoh realnya saja, saya sendiri hampir direkrut oleh Kaltim Post. Tapi saya bisa ambil poinnya; mereka kagum dengan Bontang Post dan program Student Journalismnya!

Mungkin inilah keistimewaan dari anggota Student Journalism, juga sebagai bagian dari Jawa Pos Group. Usai melihat kliping berita saya, mereka menawarkan diri pada saya, “Mas, mau jadi wartawan disini (Malang Post, Red.)? Jadi wartawan halaman muda kami (M-Teens),” kata keduanya. Tapi saya teringat tujuan utama saya ke Malang adalah kuliah. “Nanti saja, Pak. Saya mau fokus kuliah dulu. Mungkin kalau ada waktu saya bisa kesini,” saya menjawab begitu.

Sedikit, bahkan hampir tidak ada media yang mau menerima wartawan seumur jagung seperti saya. Kesempatan emas buat saya terbuka lebar dengan mengikuti program Student Journalism Bontang Post ini. Bahkan saya dengar dari redaktur kami (Faisal Rahman), kalau saya dan dua teman saya yang lain hendak ditarik ke tim Xpresi Kaltim Post saat baru beberapa bulan di Student Journalism Bontang Post. Senang sih iya, tapi saat itu kami masih SMA, dan kami masih ingin di Kota Taman. Kelak usai kuliah, saya ingin mengelilingi semua media dibawah Jawa Pos Group, mengambil pengalaman dari sana, dan membawanya pulang untuk kemajuan Kota Taman! (***)

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

4 comments on “SNMPTN Tulis Tidak Diambil, Baru Dua Minggu Ditawari Jadi Wartawan”

  1. asik bro bisa baca pengalamanmu ,, aku juga punya pengalaman seperti kamu n cita” jadi wartawan tp bedax aku lebih fokus ke jurnalis fotonya.. semoga bisa sher” masalah jurnlistik atopun fotox . lagi pua kita sama” mahsiswa ikom UMM cmn akuy angktan 2011 hehehe . sukses 😀 😛

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *