Ospek Diruangan Ber-AC, Ikut Menyambut Mendikbudnas

Salahsatu tim penyambutan Mendikbudnas. Foto bersama Pembantu Rektor III (Kanan berdiri)

Orientasi Studi dan Perkenalan Kampus (Ospek) seringkali dipersepsikan negatif. Perploncoan, adanya hubungan senior dan junior dimana senior lebih berkuasa, dan lain sebagainya. Tapi berbeda dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tempat saya ospek. Simak cerita dibalik Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) 2012.

Muhammad Zulfikar Akbar, Malang

MINGGU (5/9) pagi pukul 06.30 Wib, kami semua dikumpulkan di Dome UMM. Dibawah mentari pagi dan udara sejuk Malang,  panitia Pesmaba –nama lain ospek– mengarahkan kami kepada kelompok masing-masing yang sudah dibagi sebelumnya saat screening. Panitia membaginya menjadi 25 kelompok karena ada 885 peserta, dan saya masuk di kelompok 21, yaitu kelompok Soekarno.

Pra-Pesmaba hari ini hanya untuk mengumpulkan Mahasiswa Baru (Maba) kepada kelompoknya masing-masing, dan membagikan tugas-tugas apa yang mestinya dibawa.  Di kelompok saya terdapat 29 orang yang terdiri dari 5 jurusan di Fisip yang berbeda, yaitu Ilmu Komunikasi (Ikom), Hubungan Internasional (HI), Kesejahteraan Sosial (Kesos), Sosiologi, dan Ilmu Pemerintahan.

Tidak lupa juga, panitia menyiapkan dua orang pendamping dalam setiap kelompok. Di kelompok saya, didampingi oleh Irfan, mahasiswa semester tiga Ikom, dan Anter, mahasiswa semester tiga Ilmu Pemerintahan. Saat waktunya berkumpul dengan kelompok masing-masing, diadakanlah penunjukkan ketua kelompok. Tanpa menunggu lama, saya menawarkan diri untuk menjadi ketua di kelompok saya. Saya ingin membuktikan, kalau saya sebagai putra Bontang bisa memimpin teman-teman saya yang berasal dari daerah yang berbeda dari seluruh Indonesia!

Usai menjadi ketua, saya punya tugas baru; membuat yel-yel. Sejujurnya, urusan membuat yel-yel ini bukan keahlian saya. Namun sebagai ketua, saya harus bisa mengarahkan mereka untuk membuat yel-yel. Disini saya membagi tugas, untuk yang cewek saya suruh untuk membuat aransemen lagu untuk menjadi yel-yel, sedangkan yang cowok bekerja mencari gerakan, tentunya setelah yang cewek selesai membuat lagunya.

Selama 30 menit membuat yel-yel, akhirnya yel-yel kami selesai. Walaupun masih sangat sebentar durasi yel-yel kami, setidaknya kami sudah membuatnya untuk sementara waktu. Pukul 12.00, kami pun dibubarkan dan mencari tugas-tugas yang diberikan oleh panitia.

Keesokan harinya, Pesmaba pun dimulai. Kami dikumpulkan pukul 06.00 Wib untuk gladi bersih upacara pembukaan yang dibuka oleh Pangdam V Brawijaya, Mayjend TNI Murdjito. Total 6655 maba memadati Helipad di tengah kampus. Ribuan mahasiswa baru ini memerahkan kampus putih, nuansa kemerdekaan juga masih terasa di kampus ini. Jika dilihat dari udara, kerumunan maba ini seperti bendera merah putih. Merah yakni bagian putra yang memakai topi universitas warna merah, dan putih karena putrinya memakai jilbab warna putih.

Pukul 07.35, Pangdam resmi membuka kegiatan Pesmaba, ditandai dengan pelepasan seribu balon merah putih dan penekanan sirine. Gemuruh tepuk tangan pun membahana di helipad UMM. Setelah resmi dibuka oleh Pangdam dan disaksikan oleh Rektor UMM, Muhadjir Effendy, kami digiring ke Dome UMM untuk mengikuti kuliah umum yang disampaikan oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar yang juga mantan Rektor UMM.

Usai kuliah umum, oleh Master of Ceremony (MC) tiap-tiap fakultas digiring menuju tempat Pesmabanya masing-masing. Untuk fakultas saya, digiring ke basement UMM Dome. Di tempat ini, pembukaan Pesmaba Fakultas dibuka oleh dekan dan beberapa dosen Fisip lainnya. Bayang-bayang ospek ini bakal mengerikan ternyata tidak terbukti. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip selaku panitia ternyata menyusun acara ospek jauh dari kesan perploncoan, kekerasan, dan hal negatif lainnya. Sembilan puluh persen acara berupa seminar dan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), juga beberapa organisasi yang bisa dimasuki maba. Seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan lain-lain.

Selama empat hari pelaksaan Pesmaba, semua kegiatan diisi dengan seminar dan hiburan sehingga tidak membuat jenuh maba. Puncaknya ketika penutupan Pesmaba Fakultas pada hari ketiga, ada kejutan yang menarik dari panitia untuk seluruh maba, yakni drama musikal. Persembahan terakhir dari panitia membuat kenangan selama Pesmaba tidak akan dilupakan.

IKUT SAMBUT MENTERI

Dari 6655 maba, pihak kampus memilih seratus diantaranya untuk turut menyambut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Mendikbudnas), Muhammad Nuh. Beruntung, saya salahsatu dari sekian ribu maba yang terpilih untuk menyambut Menteri.

Usai apel pagi di helipad, kami yang terpilih berkumpul dengan panitia yang juga ditunjuk untuk menyambut Menteri di pinggir helipad. Kami semua di briefing terlebih dahulu dan dibagi menjadi sepuluh kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri dari sepuluh orang. Tugas kami sederhana, kami cukup menyanyikan yel-yel untuk menyambut Menteri saat turun dari helikopter dan mengantarkannya ke gedung rektorat. Namun saya tidak mau hanya menyanyikan yel-yel dan bertepuk tangan, saya ingin menjabat tangan dan menyapa pak Menteri langsung!

Sekitar dua puluh menit gladi bersih penyambutan dan menunggu, akhirnya helicopter yang ditumpangi Menteri tiba. Gemuruh bunyi baling-baling dan hembusan angin yang kuat dari putaran baling-baling tersebut turut menyambut Menteri turun dari helikopter. Setelah turun, ia disambut oleh Rektor, dan jajaran pimpinan universitas lainnya. Menteri dan jajaran pimpinan universitas segera kami sambut dengan yel-yel dan tepuk tangan. Saat Menteri akan melewati saya, tanpa basa-basi saya terobos pengawalan Menteri dan segera menyapa dan berjabat tangan dengan beliau. “Pagi pak. Selamat datang di kampus putih UMM,” kata saya sembari menjabat tangan beliau. “Oh iya iya. Terimakasih ya,” kata beliau.

Usai berjabat tangan dengan beliau, saya senangnya bukan main. Baru kali ini menjabat tangan seorang pejabat Negara dan saya lakukan dengan menerobos langsung pengawal. Sebelumnya, saya beberapa kali menjabat dan menyapa walikota dan wakil walikota. Namun saat ini, saya merasakan sense tersendiri ketika bisa menjabat dan menyapa seorang pejabat Negara. Saya berharap pengalaman ini tidak berhenti disini, namun bisa terus bertambah dikemudian hari. (***)

Komentar Anda