Dua Kali Gagal Tes, Dapat Penghargaan Mahasiswa Baru Terbaik

Vinda Novia Ruspitasari, satu dari sekian banyak lulusan SMA di Kaltim yang berhasrat melanjutkan pendidikan di universitas-universitas kesohor di tanah Jawa. Dua kali gagal tak membuatnya patah semangat.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang

JALAN alumnus SMA YPK 2011 ini untuk masuk di Fakultas Kedokteran tidak mudah. Dara kelahiran Bontang, 19 November 1992 itu harus merasakan jatuh bangun sebelum memastikan satu bangku di Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya (Unibraw), Malang. Saat bincang santai dengan Bontang Post (Kaltim Post Group), Vinda bercerita, dia mendaftar S-1 Jurusan Kebidanan di Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Universitas Airlangga (Unair) Surbaya secara bersamaan. Dia mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tes masuk di dua universitas ini dilakukan di Malang dan serentak secara nasional. Sayangnya, hasil tes Vinda gagal. Nilai passing grade-nya tidak mencukupi atau jauh dari standar yang ditetapkan dua universitas di dua kota tersebut. Vinda tak putus semangat. Dia mencoba mengikuti seleksi masuk melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) di Unair dengan jurusan sama. Sekali lagi dia gagal. “Saat itu saya down, bingung mau melakukan apa. Tapi karena saya punya tekad tidak mau menyerah dan ingin membuktikan diri sama orangtua, saya kembali mencoba. Saya mengikuti tes tertulis Seleksi Penerimaan Kemitraan Instansi (SPKins) di Universitas Brawijaya Malang,” katanya.

SPKins merupakan tes ujian masuk kuliah yang diselenggarakan Unibraw bekerja sama dengan instansi tertentu. Pada tes kali ini, Vinda lolos seleksi awal. Hasil tes tertulis yang diikutinya memenuhi standar Unibraw. Dia lalu mengikuti tes kesehatan yang jamak dilakukan terhadap calon mahasiswa baru kedokteran setelah lulus tes tulis. Putri pasangan Cacuk Wadianto dan Esti Susiani ini akhirnya bisa masuk di Fakultas Kedokteran di Unibraw. Jauh sebelum mengikuti tes masuk, Vinda memang acap kali mencari informasi pendaftaran untuk bisa masuk fakultas favorit tersebut. Mulai dari “berselancar” di internet, hingga melihat informasi perguruan tinggi yang tertera di pengumuman pada majalah dinding sekolah. Dukungan orangtua juga jadi pelecut semangatnya meski gagal dua kali mengikuti tes. Kata Vinda, orangtua memberikan dukungan dengan mengizinkannya mengikuti tes berulang-ulang tanpa memikirkan berapa biaya yang harus ditanggung. “Walaupun mereka tak menemani saya pergi untuk tes di luar Bontang, saya yakin itu adalah salah satu wujud kepercayaan mereka bahwa anak mereka dapat mandiri,“ jelasnya.

Kegagalannya dalam dua kali tes masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ini, ungkap Vinda, juga membuktikan jika persaingan masuk ke PTN di pulau Jawa sangatlah ketat. “Susah sekali untuk bisa masuk di PTN yang kita inginkan. Dari sekian ribu peserta, mungkin hanya berapa puluh saja yang diterima masuk. Kita harus bersaing dari seluruh Indonesia agar bisa masuk ke kampus tujuan kita,” bebernya. Awal masuk sebagai seorang mahasiswa, Vinda bisa membuktikan bahwa anak Bontang bisa bersaing dengan daerah lain. “Alhamdulillah saya dapat predikat Mahasiswa Baru Terbaik pada jurusan saya,” katanya. Penilaian Vinda sebagai mahasiswa baru terbaik di jurusan kebidanan bukan tanpa dasar. Selama mengikuti kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), ia terbukti berhasil mengerjakan tugas-tugas ilmiah yang diberikan oleh pihak kampus. Seperti tes injeksi, menyaring urine, dan tugas ilmiah lainnya.

Baginya, menjadi pelajar daerah yang terpenting adalah rajin belajar dan minta doa restu dari kedua orangtua,” jelasnya. Sebagai seorang mahasiswa, kendala utama tinggal di luar kota biasanya selalu sama, yaitu makanan. “Karena saya terbiasa makan di rumah dengan masakan mama, tiba-tiba harus menjadi anak indekos yang mengurusi dirinya sendiri. Saat sakit pun harus mengurus semuanya sendiri,” tutur Vinda. Selama di Malang, Vinda juga aktif di organisasi. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Bontang (HMB) cabang Malang. “Di HMB diajarkan bagaimana cara membagi antara organisasi dan kuliah tanpa mengorbankan salah satunya, juga pembentukan karakter sebagai mahasiswa,” katanya. Menurutnya, hal yang paling disukainya selama berkuliah di Malang adalah saat kegiatan kaderisasi HMB. “Di sini (HMB) diajarkan banyak hal. Termasuk kita bisa refreshing bersama teman-teman seperjuangan dari Bontang demi kemajuan Bontang,” ungkapnya.

Walaupun banyak teman dari Bontang, tapi tak ada satu pun yang sama jurusan dengannya. “Menurut saya, teman-teman dari Bontang cenderung memilih jurusan yang populer, seperti teknik, kedokteran, akuntansi, dan sebagainya,” kata Vinda. Meskipun berbeda-beda jurusan, tidak lantas membuat komunikasi dengan teman yang lain putus. (far)

 Artikel ini diterbitkan di Bontang Post Halaman 1 dan Kaltim Post Halaman 25, juga di website Kaltim Post http://kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=145716 pada 29 Agustus 2012.

Komentar Anda