Jangan Suntik Pantat saya, Dok!

Saat kita masih usia kanak-kanak, kita sering kali harus menjalani penyiksaan yang disebut imunisasi. Kok imunisasi disebut penyiksaan? Ya, karena ada sebuah jarum yang menembus kulit kita, dan rasanya sungguh sakit. Imunisasi ini tujuannya untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap berbagai macam penyakit, seperti Polio, Tetanus, Hepatitis, Campak, dan imunisasi lainnya. Sayangnya, di dunia ini belum ditemukan vaksin imunisasi penyakit galau. Kalau ada, mungkin semua orang berlomba-lomba untuk imunisasi tersebut dan seluruh dunia akan bebas dari penyakit galau.

Pedihnya penyiksaan ini juga saya alami saat duduk di kelas 1 SD. Saat sedang menjalani proses belajar, tiba-tiba datang dua orang dengan berpakaian putih-putih. Mereka memperkenalkan dirinya sebagai dokter dan perawat. Mulanya ia menjelaskan suatu penyakit, dan saat tiba waktunya menjelaskan imunisasi, saya ketakutan. Apalagi setelah mendengar kata ‘disuntik’, rasanya seperti mati lemas. Walaupun setelah diberi imunisasi akan diberi hadiah susu, tetap saja saya ngeri dengan namanya ‘disuntik.’

Satu persatu dipanggil sesuai urut absen untuk diimunisasi. Teman saya yang pertama kali maju, ia begitu tenang saat disuntik, dan ia terlihat senang saat diberi susu oleh perawat. Begitu pula dengan teman-teman saya yang lain. Mereka tidak ada ketakutan sama sekali, dan hanya sesekali berteriak ‘Aaww’ saat baru disuntik. Sampai tiba giliranku dipanggil, saya hanya bisa berdoa,

“Tuhan, selamatkan diriku,”

Pelan-pelan, sang dokter mulai membuka celanaku, hingga akhirnya terbuka sebagian pantatku. Saat sang dokter mengambil jarum suntiknya, saya berpikir inilah suatu kesempatan. Dengan cepat saya langsung kabur dan pergi keluar kelas dengan keadaan celana masih terbuka, dan berteriak keliling sekolah, “TOLOONGG!! JANGAN SUNTIK AKU DOKK!! JANGAN SUNTIK PANTATKUU!!”

Diluar dugaan, dokter dan perawat tersebut juga mengejarku. Sehingga terjadi kejar-kejaran antara; siswa dengan celana terbuka dan kelihatan pantatnya, dengan dokter dan perawat yang sepertinya bernafsu untuk menyuntikku. Hingga akhirnya, saya tertangkap juga oleh dokter dan perawat, dibantu dengan guru-guru di sekolah.

“GAAK MAUU!! AKU MAU PULAAANG!! MAMAAA!!!!” teriakku selama dibawa oleh dokter dan perawat.

Sampai dikelas, hampir semua guru memegangi saya agar bisa disuntik. Saya terus meronta-meronta sampai akhirnya.. “BLUSS,” suntikannya berhasil masuk di pantatku.

“HUAAA!! SAKIITT!! AMPUUN DOOKK!! MAUU PULAAAANGG!!” saya terus berteriak seperti itu, sampai mama saya menjemput ke sekolah. Sejak saat itu, ketika tahun berikutnya ada imunisasi, saya memilih untuk bolos sekolah daripada menanggung malu teriak-teriak keliling sekolah dengan keadaan pantat terlihat.

2 komentar pada “Jangan Suntik Pantat saya, Dok!

  • 2 Februari 2014 pada 09:22
    Permalink

    Hahahaha.. iya ta?? aq dlu d SD 1 ypk.. d imunisasi d lengan atas kanan lohh.. trus d kls q ad jg yg mpe d kjar ma guru2 n dokternya.. spa ya.. lupa aq.. cwo jg tp.. 😀

    Balas

Komentar Anda