Black Panther: Pahlawan dari Tanah Afrika

Peringatan! Review film ini mengandung sedikit spoiler dari film Black Panther.

 

Marvel Studios kembali mengeluarkan film yang diadopsi dari tokoh komik superhero-nya. Black Panther merupakan tokoh fiksi manusia super yang kali ini mendapat kesempatan dieksplor lebih jauh kisahnya, setelah pertama kali diperkenalkan dalam film Captain America: Civil War, tahun lalu.

Usai event Civil War, tepatnya setelah kematian Raja T’Chaka (John Kani), Pangeran T’Challa (Chadwick Boseman) kini mewarisi tahta kerajaan Wakanda dan jubah Black Panther, simbol pelindung negeri yang kaya Vibranium itu. Sepuluh hingga 30 menit pertama menonton film ini, kita akan diperkenalkan sejarah Wakanda, negeri yang berada di pedalaman Afrika ini beserta beragam kebudayaannya. Dalam film ini pula, penonton akan mengetahui dari mana asal usul kekuatan Black Panther itu berasal dan bagaimana penduduk Wakanda mengelola sumber daya alamnya.

Semakin lama menonton film tersebut, konflik dalam Black Panther mulai muncul. Namun penonton jangan terkecoh, karena kemunculan musuh lama Wakanda, Ulysses Klaue (Andy Serkis) di film ini bukanlah konflik utama. Konflik sesungguhnya muncul, saat Erik Killmonger (Michael B. Jordan) mulai menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya dalam film ini. Selain itu, kita pun dapat mengetahui sisi lain dari raja sebelumnya, T’Chaka yang ternyata perbuatannya sebelumnya, menjadi awal mula konflik sebenarnya dalam film ini.

Berbagai adegan pertarungan yang epic disajikan dengan sempurna oleh Sutradara Ryan Coogler. Terutama adegan kebut-kebutan di jalanan Busan dan perkelahian antara Black Panther dan Erik Killmonger di Wakanda. Tak heran, Lembaga Sensor Film (LSF) memberikan batasan usia untuk 17 ke atas atau dewasa yang boleh menonton film ini. Banyak adegan perkelahian yang sadis dan tak laik ditonton untuk anak-anak.

Penulis saat berfoto di stand foto Black Panther di XXI e-Walk Balikpapan.

Tak hanya Chadwick Boseman saja yang menonjol dalam filmnya kali ini. Deretan artis top lain seperti Lupita Nyong’o sebagai Nakia, Danai Gurira sebagai Okoye, Letitia Wright sebagai Shuri, bahkan Martin Freeman sebagai agen Ross pun sama-sama punya peran penting dalam film ini. Hal ini membuat penonton tidak bosan melihat adegan demi adegan yang disajikan.

Seperti ciri khas film-film Marvel lainnya, jangan sampai penonton terkecoh dengan trailer yang sudah disajikan sebelumnya di kanal Youtube Marvel Entertainment. Sebab, beberapa adegan yang sudah ditunjukkan sebelumnya di trailer, akan sangat berbeda dengan yang ditayangkan dalam filmnya. Jauh lebih bagus!

Sepanjang 134 menit film diputar, komentar yang bisa saya berikan adalah: Sempurna. Marvel Studios benar-benar menyajikan film yang benar-benar berbeda dengan film-film Marvel sebelumnya. Tone film yang dark, namun tetap menempatkan humor di tempat yang seharusnya. Sehingga semakin menguatkan jalan cerita film tersebut. Sebuah mahakarya dari Marvel Studios untuk para penggemarnya.

Oh ya, dan jangan lupa untuk tetap duduk sampai credit title berakhir. Sebab, ada dua scene di mid-credit dan end-credit yang pastinya tak boleh dilewatkan. Selamat menonton! (*)

Komentar Anda