Kecanduan Buku Psikologi saat Kecil, Kini Jadi Motivator Handal

Indonesia punya banyak motivator hebat. Mario Teguh dan Tung Desem Waringin di antaranya. Namun Bontang juga punya motivator yang tak kalah hebat, dialah Andreas Bordes Febrianurdi.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

LULUSAN dengan predikat cumlaude dari Universitas Ciputra Surabaya ini penghobi basket semasa mudanya. Prestasi di bidang olahraga tersebut juga tak bisa dianggap remeh. Jadi kapten tim basket SMA YPK dan mengantarnya masuk ke final Development Basketball League (DBL) East Kalimantan Series 2010 salah satunya. Tak hanya itu, ia terpilih mengikuti DBL World Camp juga di tahun yang sama. Namun siapa sangka, pebasket itu kini jadi motivator.

Melalui percakapan di aplikasi messenger Whatsapp, Andreas bercerita awal mulanya menjadi motivator saat dirinya berada di kelas 3 SD. Dirinya yang sering disayang oleh ayahnya, kini kehilangan sosok yang dijadikan panutan saat ayahnya meninggal dunia karena pecah pembuluh darah di otak.

“Saat itu saya kehilangan mentor dalam hidup. Apalagi, ibu saya harus bekerja pagi sampai sore menjadi perawat, malam menjadi agen asuransi untuk menghidupi keluarga,” kata pria kelahiran Bontang 10 Februari 1993 ini.

Merasa tidak punya sosok seperti ayahnya yang mengiringi perjalanan hidupnya, ia mulai mengumpulkan dan membaca buku-buku bertema psikologi dan pengembangan diri. “Bukunya Dale Carnegie, Stephen R Covey, jadi santapan untuk dibaca sehari-hari. Di saat yang lain baca komik atau novel, saya malah baca buku-buku tersebut,” ujar Andreas.

Dari buku-buku yang dibaca inilah, Andreas mulai bangkit. Semua ilmu psikologi yang sudah dibacanya pun coba diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya, ia yang mengaku awalnya tidak punya rasa percaya diri yang tinggi, sejak itulah ia mulai berani untuk menggapai mimpi-mimpinya. “Yang paling terasa saat saya lolos ke DBL World Camp. Bukan karena fisik dan kemampuan yang saya miliki saja, namun mental atau psikologis saya,” ungkap peraih penghargaan Enterpreneur Best Strategic Direction saat dirinya masih kuliah S1.

Saat SMA pun, dirinya mulai merintis jalan menjadi motivator. Berbekal ruang tamu miliknya, karpet, dan kipas angin agar mendinginkan ruangan, ia mengundang teman-teman sebayanya mengikuti seminar motivasi yang diadakan dirumahnya. Seminar pertama yang sangat sederhana, duduk lesehan. “Karena kalau di hotel pasti mahal. Lebih baik di rumah saja. Nah dari seminar pertama itulah, ketika teman-teman saya bilang terima kasih membuat saya semakin semangat membuat seminar-seminar selanjutnya,” kata Andreas.

Tantangan Andreas untuk menjadi motivator justru datang saat dirinya mulai kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya. Saat kuliah, ia ingin membuka seminar pengembangan diri. Namun tantangannya berbeda, tidak ada orang yang dikenalnya di kota perantauannya ini. “Kalau di Bontang saya masih punya teman-teman, karena saya juga kapten basket juga lumayan dikenal. Kalau ini tidak ada teman sama sekali, jadi saya putuskan nekat menggelar seminar. Namun tetap tidak di hotel, tapi di sebuah restoran,” tutur Andreas yang kini melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Surabaya (Ubaya).

Saat seminar pertamanya di Surabaya inilah, ia mulai dikenal banyak orang sebagai motivator. Tawaran dari berbagai instansi dan perusahaan juga mulai berdatangan. Bahkan, ia juga sampai dikirim ke Bali, Jakarta, bahkan saat pulang ke Bontang pun ia sempatkan mengisi seminar untuk adik-adik kelasnya. Meski begitu, dirinya juga pernah ‘ditipu’ saat akan melakukan seminar. “Mungkin karena waktu itu terlalu pede, sudah nyiapkan banyak modul eh ternyata tidak ada yang datang. Padahal waktu itu dijanjikan sama orang mau datangkan 30 orang. Dari situ saya belajar, kalau mau mengadakan seminar harus bayar DP (Down Payment, red.) dulu. Karena kalau gratis terus kesannya tidak menghargai,” kata peraih Young Marketeer Award “Best Market Audit” saat dirinya juga masih kuliah S1.

Kini, Andreas yang juga pernah membukukan namanya dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena meluncurkan buku pertama dalam air ini masih tetap ingin menyebarkan semangat positif melalui profesinya sebagai motivator. “Saya merasa bahagia ketika orang datang kepada saya dan bilang terima kasih sudah dibantu untuk lebih baik dalam hidupnya. Rasanya sangat nikmat bisa berkontribusi dan membuat orang lain hidupnya jauh lebih  baik lagi,” pungkas penulis buku Rahasia Menjadi Pribadi Dahsyat saat dirinya diusia 19 tahun ini. (bersambung)

Komentar Anda