Keliling 7 Kedutaan, Diterima di Tiongkok

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Peribahasa itu tampaknya pantas disematkan pada Ria Ravikariyanto, mahasiswi asal Bontang yang kini kuliah di North China Electric Power University (NCEPU). Kepada Bontang Post, ia bercerita perjuangannya menuju Negeri Tirai Bambu itu.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

PUTRI sulung dari pasangan Djoko Riyanto dan Raudatul Jannah ini memang punya keinginan kuat pergi ke luar negeri. Mimpinya tersebut sudah muncul bahkan saat Ria masih duduk di bangku sekolah dasar. Selepas lulus dari SMKN 1 Bontang, ia getol mencari informasi beasiswa yang bertebaran di dunia maya. “Januari 2014 saya apply di Universitas Esa Unggul Jakarta karena menawarkan beasiswa double degree. Alhamdulillah lulus karena cuma seleksi berkas saja. Padahal saya juga lulus SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, red.) di Unmul (Universitas Mulawarman, red.) untuk jurusan yang sama, yaitu teknik industri, tapi saya pilih Esa Unggul,” kata Ria.

Dorongan orangtua agar giat mencari beasiswa terasa dalam diri dara kelahiran Bontang 14 Januari 1996 silam ini. Selain memang keinginan Ria untuk berkuliah di luar Kalimantan, kedua orangtuanya mewanti-wanti tidak boleh kuliah di luar pulau jika tidak dapat beasiswa. “Mungkin karena itu juga motivasi saya untuk dapat beasiswa. Setelah dinyatakan lulus dan dapat beasiswa dari Esa Unggul, Juli 2014 saya mulai berkuliah di sana,” ujarnya.

Meski sudah berkuliah di Esa Unggul, keinginan Ria berkuliah di luar negeri belum luntur. Ia justru makin rajin menyambangi berbagai kantor kedutaan besar dan pameran-pameran pendidikan luar negeri. Ria masih ingat, ada tujuh kedutaan dia datangi untuk mencari info beasiswa kuliah ke luar negeri. “Saya coba ke Kedutaan Jepang, Jerman, Turki, Amerika, dan beberapa negara di Timur Tengah. Selain di kedutaan, beberapa perwakilan kedutaan saat pameran pendidikan juga saya datangi, kayak Kedutaan Singapura, Malaysia, dan lain-lain,” tambah Ria.

Totalnya, ada 11 perwakilan negara disambanginya demi mencari beasiswa luar negeri dalam kurun waktu Januari-September 2015. Hingga akhirnya, Ria mendapatkan informasi bahwa kampusnya sudah melakukan perjanjian atau MoU program double degree dengan NCEPU. Tak ingin kehilangan kesempatan, Ria nekat mencobanya. “Soalnya itu beda jurusan. Saya kan teknik industri, sedangkan beasiswanya teknik mesin. Awalnya memang sedikit ragu, setelah diskusi dengan orangtua ternyata menyerahkan sepenuhnya keputusan pada saya. Akhirnya saya beranikan diri ikut program ini,” tuturnya.

Keikutsertaan Ria dalam program double degree bukan tanpa halangan. Selain kondisi bahasa dan pelajaran yang akan dihadapi, teman-temannya yang dulu berminat ikut bersama dengannya rontok satu per satu. “Dari awalnya 13 orang, turun jadi 10 orang, berkurang terus sampai tinggal 3 orang termasuk saya. Padahal minimal untuk ikut program ini harus 10 orang. Kalau kurang dari itu bisa terancam tidak berangkat karena syarat membuka satu kelas internasional di Tiongkok minimal 10 orang,” kata Ria.

Ia kemudian mencoba bernegosiasi dengan kampus Esa Unggul. Karena harus berhubungan dengan pihak kampus di Tiongkok, proses ini memakan waktu sekitar sebulan lamanya. Setelah menunggu sekian lama, Ria dan kedua rekannya dinyatakan bisa berangkat ke Beijing pada 1 September. Meskipun sudah mendapat kabar gembira, Ria ternyata kembali mendapatkan kabar kurang menyenangkan. “Tiga bulan sebelum keberangkatan, satu teman saya mengundurkan diri karena tidak yakin meninggalkan kedua orangtuanya. Sama juga sebulan menjelang keberangkatan, satu teman saya mundur lagi. Akhirnya tinggal saya sendiri dan saya khawatir apa kali ini benar-benar bisa berangkat,” ujarnya.

Dengan rasa cemas yang tinggi, Ria berusaha meyakinkan pihak Esa Unggul maupun NCEP jika dirinya sangat ingin kuliah di Tiongkok karena merupakan salah satu mimpinya. “Mungkin setelah melihat keyakinan saya akhirnya mereka memperbolehkan saya berangkat satu-satunya yang mewakili Esa Unggul. Tak berapa lama juga ada kabar tiga mahasiswa dari Universitas Teknologi Yogyakarta juga ikut serta, kali ini akhirnya bisa bernapas lega,” kenangnya.

Ria ternyata belum bisa bernapas lega pasca dinyatakan dapat berangkat ke Tiongkok. Ia masih harus mengurus beberapa dokumen persyaratan seperti paspor, visa, dan medical check-up. “Saat mengurus visa keberangkatan di Kedutaan Tiongkok ini yang paling berat. Di sana lagi ada aturan baru pembatasan kunjungan pada September karena bertepatan pada G20. Saya takut banget waktu itu. Saya terus berdoa saja, dan Alhamdulillah visa saya tidak di-cancel, sedangkan tiga teman saya dari Yogyakarta harus menunggu Oktober dapat diberangkatkan,” kata Ria.

Tepat 31 Agustus, dirinya berangkat dari Jakarta dan 1 September Ria akhirnya menginjakkan kaki di Beijing, Tiongkok. Di NCEP, ia bergabung dengan mahasiswa internasional lainnya seperti dari Pakistan, Nepal, Uzbekistan, Sudan, Rwanda, Amerika, Rusia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Bersama mahasiswa internasional lainnya, ia memanfaatkan kesempatan untuk promosi budaya Indonesia, terutama Bontang. “Saya promosi budaya Bontang, terutama masakannya. Sebelumnya saya masak Gammi Ikan di sini. Karena tidak ada ikan Bawis, jadi pakai ikan apa saja yang ada di Tiongkok,” ujarnya.

Mahasiswa internasional yang lain ternyata menggemari gammi buatan Ria. Karena rata-rata tidak suka pedas, mereka bahkan sampai keringatan dan nangis sembari memakan Gammi Ikannya dengan lahap. “Padahal cabe di sini beda dengan di Indonesia, pedasnya kayak cuma geli-geli di lidah. Lucu banget lihat mereka makan sampai nangis, padahal saya makannya tidak terasa pedasnya,” tutur Ria sambil tertawa.

Kendala bahasa juga jadi masalah bagi Ria. Meski ia berada di kelas internasional yang menggunakan bahasa Inggris, namun dalam aktivitas sehari-hari, Ria dituntut menggunakan bahasa Mandarin. “Padahal sudah dikasih les Mandarin selama tiga bulan oleh kampus, tapi tetap masih susah. Beda nada pengucapan kan beda arti gitu. Kadang kalau belanja harus bawa kamus, kadang juga pakai bahasa isyarat,” katanya.

Meski saat ini sedang melanjutkan studi di Tiongkok, Ria sudah punya mimpi ingin membangun Bontang. “Saya pernah menuliskan paper mengenai rencana saya setelah kuliah dan saya ajukan ke Dirjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, red.) mengenai pembangunan perusahaan pengolahan hasil laut untuk mendorong potensi Kota Bontang. Tapi ya belum ada respons. Setidaknya saya pernah menuliskan cita-cita saya, next time saya mewujudkannya,” pungkas Ria. (***)

 

Link terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7202-keliling-7-kedutaan-ria-diterima-di-tiongkok

Komentar Anda

Back to Top
%d blogger menyukai ini: