Presenter di 4 Stasiun TV, Ingin Kembali ke Bontang

Cukup mematahkan sudut pandang bahwa yang terbit di televisi hanya sebatas fisik dengan kemolekan diri yang cantik, mulus, dan seksi. -Latifah Nur Muslimah

 

Berhijab bukan jadi halangan buat Latifah Nur Muslimah untuk jadi presenter. Meski bukan dari latar belakang pendidikan komunikasi ataupun broadcasting, lulusan Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mantap berkarier di dunia televisi.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

KEINGINAN untuk menjadi presenter memang belum tumbuh saat Latifah masih berada di awal bangku kuliah. Namun, dirinya sudah mulai sering ditawari menjadi Master of Ceremony (MC) saat kegiatan-kegiatan kampus. Menjadi protokoler saat acara ospek, jadi pembuka jalan Latifah mengenal dunia public speaking yang kini digelutinya. “Waktu pertama jadi MC belum dibayar dan kebanyakan dadakan, tapi saya senang ngejalaninnya,” ujar perempuan kelahiran Bontang 10 Desember 1988 ini.

Keputusan Latifah mantap menyelami dunia broadcasting sesungguhnya muncul saat menjelang kelulusan dirinya  di bangku kuliah. Keputusan ini diambilnya setelah selama kuliah mengikuti berbagai audisi penyiar maupun presenter. “Waktu akhir 2011 saat sedang mengerjakan tugas akhir, diadakan audisi penyiar radio di Yogyakarta. Dengan modal nekat, saya mengikuti proses audisi tersebut mulai tes suara hingga lolos ke tahap wawancara. Saat wawancara inilah ditanyakan mengenai prinsip saya berhijab,” kata Latifah.

Setelah pertanyaan seputar berhijab, dirinya tidak yakin bakal diterima dalam audisi tersebut. Apalagi, kata Latifah sangat jarang ada penyiar radio yang berhijab. Lama menunggu konfirmasi dari penyelenggara audisi, Latifah berkesimpulan dirinya tidak lolos. “Sepertinya belum familiar waktu itu dunia radio dengan yang namanya penyiar berhijab. Alhasil saya nggak terlalu berambisi untuk menduduki kursi kepenyiaran di radio. Mungkin memang belum jalannya di radio, pikir saya waktu itu,” ujar alumni SMA Vidatra ini.

Meski gagal di audisi penyiar radio, Latifah mencoba peruntungan yang lain yakni menjadi presenter televisi. “Seminggu setelah event audisi penyiar usai, ternyata diadakan audisi presenter dalam rangka SCTV Goes to Campus di 2011 juga. Hati saya berbisik, sayang sekali kalau kesempatan ini tidak disambangi. Akhirnya saya hajar saja audisinya. Tidak disangka, Alhamdulillah lolos sampai final 5 besar,” kenang Latifah.

Walau akhirnya lagi-lagi Latifah tidak jadi pemenang, namun dari dua kali kegagalannya inilah justru ia makin mantap berkarir di dunia penyiaran. Pengalaman berada di depan kamera muncul saat dirinya menjadi reporter di Trans 7. Meski sebentar, dirinya bangga membuktikan jika hijaber juga bisa jadi jurnalis. “Cukup mematahkan sudut pandang bahwa yang terbit di televisi hanya sebatas fisik dengan kemolekan diri yang cantik, mulus, dan seksi,” katanya.

Sempat vakum selama setahun karena mengurus orangtua yang sakit, Latifah kembali ke dunia penyiaran saat melihat lowongan kerja presenter di TV lokal Yogya. “April 2013 itu iseng masukin lamaran ke AdiTV, ternyata saya lolos. Tapi beberapa bulan setelahnya, ada orang dari RBTV Kompas TV Yogya melihat siaran saya dan menawari untuk jadi presenter disana. Setelah minta pendapat dari beberapa orang terdekat, saya mengiyakan kesempatan tidak terduga itu karena saya tidak terikat kontrak dengan stasiun TV manapun,” ujar anak ketiga dari pasangan M Wachid Hasjim dan Maryatun ini.

Perjalanan karir Latifah setelah itu mulai menanjak. Oktober 2014, dirinya kembali ditawari membantu siaran di TVRI Yogyakarta. Bahkan di bulan yang sama pada 2015, giliran NET TV Yogyakarta menawarinya mengisi siaran. “Allah maha baik. Alhamdulillah hingga saat ini tercatat aktif menjadi presenter di AdiTV Yogya, RBTV Kompas TV Yogya, TVRI Yogyakarta, dan NET TV Yogyakarta,” ungkap Latifah yang mengidolakan Sarah Sechan dan Feni Rose ini.

Menjadi presenter dibanyak stasiun tv sekaligus tidak membuat Latifah lupa akan rumah. Saat ibunya sakit, ia berusaha membagi waktu antara kebutuhan di rumah, ibu Latifah, pekerjaannya, dan lain sebagainya. Setelah kedua orangtuanya memutuskan pensiun dan menetap di Klaten, Jawa Tengah, dirinya juga harus rela pergi pulang Klaten-Yogya. Padahal, jarak antar kedua kota tersebut bisa mencapai 33 kilometer. Pun resiko bersiaran di empat stasiun tv sekaligus membuat dirinya harus pintar mengatur waktu.

”Misal siaran di TV A selesai pukul 16.30 nah pukul 17.30nya sudah harus siaran live di TV B. Bagi waktu pas siaran maraton kayak gitu yang suka bikin deg-degan juga dan persiapannya harus dipikirin lebih cermat. Gimana kalau selesai siaran dan menuju ke tempat siaran berikutnya macet, ban kempes atau bocor, kapan make upnya, kapan ganti bajunya. Karena tidak mungkin 1 baju dipakai di 2 TV untuk siaran bersamaan, dan biasanya sudah ada wardrobenya juga disediakan. Jadi harus pintar-pintar bagi waktu dan fokus,” tutur Latifah.

Meski sudah sukses menjadi presenter di Yogyakarta, dirinya mengaku masih merindukan kembali ke Kota Taman. “Namanya kampung halaman kota kelahiran pasti pengen banget pulang, apalagi kalo lihat teman-teman yang pulang ke Bontang terus cerita perkembangan Bontang sekarang dan apa saja bedanya dulu dan sekarang, rasanya pengen langsung packing terus berangkat ke Bontang,” katanya.

Dirinya pun mengaku siap jika suatu saat ada yang menawarkan untuk berbagi ilmu penyiarannya di Bontang. “Semoga segera mampir tawaran ke Bontang bukan hanya untuk liburan tapi juga untuk sharing sama teman-teman di Bontang tentang apa yang sudah saya jalani sampai detik ini. Semoga juga banyak teman-teman setanah kelahiran yang sukses dengan passion, bakat dan kekhasannya masing-masing yang membawa nama baik dan membanggakan Bontang,” pungkasnya. (***)

==Biodata Diri==

Nama lengkap: Latifah Nur Muslimah

TTL: Bontang, 10 Desember 1988

Nama ortu: M. Wachid Hasjim B.S. dan Ibu Maryatun

Anak ke: 3 dari 3 bersaudara

Saudara 1: M. Bukhori Muslim B.S.

Saudara 2: Annisa Nur Muslimah

Saudara 3: Latifah Nur Muslimah

Sekolah: SMA YPVDP (Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra) (Vidatra) Bontang.

Kuliah:  Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Angkatan 2007

Motto hidup: “Do what you want, Do what you love, Do what you must”

 

Terbit di Bontang Post edisi 7 September 2016

Link Terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7180-presenter-yang-ingin-pulang-kampung.html

Komentar Anda