Rintis Usaha Konveksi, Sedekah jadi Gaya Hidup

Tak semua usaha bermotif materi semata. Di sekitar kita, banyak yang berwirausaha demi memajukan hajat hidup orang banyak. Seperti Muflih Alhafidy, wirausahawan muda yang peduli pendidikan di kawasan tertinggal.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

NIAT Muflih mendirikan usaha konveksinya sangatlah tulus. Prihatin dengan pendidikan yang belum merata di Kota Taman, ia menyisihkan 2,5 persen penghasilannya per minggu demi memajukan pendidikan di pinggiran Bontang. SD YPPI Teluk Kadere Kelurahan Bontang Lestari jadi saksi perjuangan Muflih mendidik calon pemimpin bangsa. Bersama komunitas yang dibentuknya, Lentera Insan jadi sarana ia dan rekan-rekannya mentransfer ilmu-ilmunya.

Pria kelahiran Kappang Sulawesi Selatan, 26 April 1992 ini mulai merintis usaha konveksinya saat dirinya masih berada di Semester 7 Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Hobi desainnya menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan menjualnya kepada pembuat baju. Tapi dirasa tidak menghasilkan untung yang diharapkan, Muflih meniatkan membuat usaha serupa setelah kembali ke Bontang sembari  menunggu pekerjaan. “Kalau cuma jual desain saja ternyata yang lebih dapat banyak (keuntungan, red.) malah pembuat bajunya,” kata Muflih.

Seusai menyelesaikan studi Strata-1 (S1) Teknik Elektro Unhas, Muflih menyulap garasi rumahnya yang berada di Jalan Safir No. 9 RT. 17 Kelurahan Berbas Tengah ini menjadi workshop konveksinya. Bukan tanpa tentangan, pihak keluarga justru meminta Muflih untuk bekerja saja. “Ya orangtua dulu kurang mendukung. Tapi waktu itu saya minta kasih kesempatan satu tahun untuk membuktikan,” ujarnya.

Februari 2015, usaha konveksi Muflih, Nahl resmi berdiri. Dengan meminjam modal dasar Rp 2,5 juta kepada orangtuanya, perjalanan usaha konveksinya dimulai. “Sebenarnya usaha konveksi ini usaha yang paling mudah, murah, dan cocok untuk anak muda. Karena dengan modal Rp 2,5 juta ini, sudah dapat alat sablon lengkap dan beberapa lusin pakaian,” ungkap anak kedua dari pasangan M Alwi Tike dan Hasnawati ini.

Awal kali usaha dirintis, Muflih hanya menerima order satuan. Selama seminggu pun, biasanya mampu diselesaikan 3-4 kaos saja. Ia beralasan, usaha konveksi yang baru saja berdiri susah jika langsung mengambil pesanan dalam jumlah besar. “Bahan kaos yang diproduksinya pun terkadang masih dibawah dibanding standar bahan distro Bandung. Di Bontang, sangat jarang ditemukan yang kualitasnya tinggi seperti itu,” tutur Muflih.

Usaha yang dijalaninya pelan-pelan mulai membuahkan hasil. Tiga bulan pasca berdiri, ia mengembalikan modal dasar ia merintis usahanya kepada kedua orangtuanya. Titik ini sekaligus menjadi momen penting mengembalikan kepercayaan keluarga pada dirinya. Sekaligus, ia tidak lagi terbebani dengan pikiran mencari kerja. “Karena kalau di keluarga saya ini termasuk yang paling ‘bebal’. Istilahnya itu pokoknya apa yang saya inginkan harus terwujud,” kata alumnus SMAN 1 Bontang.

Namun, cobaan juga tidak pergi begitu saja darinya. Muflih pun sempat kena tipu saat ada pesanan kaos dalam jumlah besar. Parahnya, rekanan usahanya di Bandung sana yang diduga menipunya. “Waktu itu sudah pesen 150 kaos ke sana (Bandung, red.). Ternyata yang dikirim itu cuma 40 kaos. Sisanya tidak ada kabar,” kenangnya.

Ia pun merugi sebesar Rp 4 juta pada waktu itu. Padahal, keuntungannya belum sampai Rp 4 juta pada waktu itu. “Dari sini saya ambil pelajaran, saat ingin bermitra dengan rekanan harus saya cek bener-bener, bahkan sampai KTP dan siapa saja yang sudah memakai jasa dia juga kita minta. Setelah di kroscek dengan pembeli sebelumnya, barulah bisa percaya. Cara ini yang sampai sekarang saya pakai, dan saat ini cuma ada dua rekanan yang dari Bandung yang saya percaya,” ujar Muflih.

Agustus 2015 jadi momen titik balik bagi Muflih. Kepercayaan pelanggannya mulai meningkat, promosi word of mouth dan media sosial semakin gencar, ia pun kini mulai menerima pesanan dalam jumlah besar. “Paling besar pernah dapat 300 kaos sekali pesan. Pernah juga ada yang mesan dari NTB (Nusa Tenggara Barat, red.),” katanya.

Meski jalan kesuksesannya tampak di depan mata, justru semakin membuat Muflih semakin peduli dengan sekitar. Tepat 17 Oktober 2015, ia dirikan komunitas sosial Lentera Insan. Pun juga ia rekrut dua pemuda sekitar rumahnya yang menganggur untuk bekerja di tempat usahanya. “Taglinenya ini kan dari awal adalah Sedekah jadi Gaya Hidup. Jadi dengan mereka menggunakan jasa konveksi disini, mereka juga sudah bersedekah dengan saya mengeluarkan 2,5 persen pendapatan per minggu kepada Lentera Insan. Istilahnya, Lentera Insan jadi tempat menyalurkan CSR (Corporate Social Responsibilty, red,) dari Nahl,” ujar Muflih yang juga menjadi Ketua Umum Lentera Insan.

Bersama ke-24 anggotanya yang tergabung dalam Lentera Insan, sudah setahun lamanya Muflih mendampingi satu sekolah di Desa Teluk Kadere, Bontang Selatan. Ia menemukan, disana ada satu pemukiman yang jumlahnya banyak, tapi  hanya punya satu sekolah dasar. “Di satu SD itu hanya ada dua guru dan tiga ruang kelas yang dipakai mulai kelas 1-6 SD. Bahkan, sampai kelas 3 SD ada yang belum bisa membaca. Gurunya juga merupakan lulusan SMA, bukan S1,” kisahnya.

Saat ini, tak hanya di Teluk Kadere saja, namun desa tetangganya yakni Desa Salantuko dan Desa Lok Tunggul juga jadi binaan dari Lentera Insan. “Setelah mengetahui di Teluk Kadere ada kami, mereka yang di dua desa juga ikut bergabung tiap minggunya belajar bersama Lentera Insan. Sekarang jumlah siswa yang jadi binaan kita ada 56 murid. Kita juga dari 24 anggota yang juga mengajar, pendidikan yang paling tinggi ada yang sudah jadi dokter, yang lain dari berbagai kalangan dan profesi. Ada juga dari mahasiswa bergabung jadi pengajar,” kata Muflih.

Kini, usahanya yakni Nahl dan komunitasnya yakni Lentera Insan berjalan beriringan. Melalui Nahl, kini ia mampu meraup omset hingga Rp 50 juta per bulan. Setiap minggunya pun, ia potong 2,5 persen untuk perjuangannya membuat pendidikan yang merata melalui Lentera Insan. “Tujuan saya buat usaha ini ada dua, yang pertama menjalin silaturahmi, yang kedua pengabdian. Sampai sekarang saya tidak mempekerjakan orang untuk khusus menerima pesanan. Saya sendiri yang menerima pesanan sambil menjelaskan kepada pelanggan yang datang, bahan yang bagus seperti apa, modelnya gimana, dan lain-lain. Sedangkan pengabdian saya melalui Lentera Insan ini,” pungkas pria yang punya motto “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lain”. (***)

Terbit di Bontang Post edisi 6 September 2016

Komentar Anda

Back to Top
%d blogger menyukai ini: