Jadi Entrepreneur Muda, Belajar Bisnis di Tiongkok

Sukses tidak mengenal umur. Hal ini terpancar dari pebisnis muda asal Kota Taman, Khalid Fadhlullah. Meski masih menyandang status mahasiswa, bisnis yang dijalaninya kini berkembang cukup pesat.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

KEINGINAN Khalid berwirausaha muncul saat dirinya menginjak semester dua di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Direkrut menjadi staf magang di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Workshop Entrepreneur and Technology (WE&T) ITS, Khalid yang memenangkan lomba desain dresscode UKM tersebut mulai berjualan kaos keliling asrama ITS. “Pertama kali jualan kaos, barangnya dari Bandung. Baru bisa jualan pun habis isya karena pagi sampai maghrib full kegiatan pengkaderan di kampus,” kata mahasiswa semester akhir Teknik Mesin ITS ini.

Alumnus SMAN 1 Bontang ini pertama hanya menjajakan sekitar 24 lembar kaos. Cara menjajakannya unik, ia ketok pintu asrama satu persatu nawarkan kaos yang dijualnya. Namun tak semua calon pembelinya merasa senang dengan cara jualan Khalid yang door to door ini. “Ada yang excited, ada yang ngerasa tidak suka karena pintunya diketok-ketok, ada yang nawar habis-habisan tapi ujung-ujungnya tidak jadi beli,” ujarnya sambil tertawa.

Penjualan kaos usahanya berubah saat tahun kedua ia berkuliah. Ia beralih menjadi jasa konveksi yang menerima order dalam jumlah besar. “Waktu jadi pengurus di UKM WE&T itu kan setiap pengurusnya wajib punya usaha. Nah saya pilihnya konveksi,” kata mahasiswa kelahiran Bontang 26 Maret 1994 silam ini.

Dibukanya jasa konveksi ini justru tanpa modal. Ia hanya bekerjasama dengan penjahit dan tukang bordir yang sudah ditunjuknya. Berbagai kerugian juga pernah menimpa anak dari pasangan Tarmudji dan Dyah Wuni Purwanti ini. “Dulu pernah punya reseller dari Samarinda. Sudah bikin surat perjanjian dan barang-barang sudah dikasih ke dia, tapi ternyata setelah itu tidak ada kabar padahal belum setoran sama sekali,” ungkapnya.

Meski akibat kejadian ini dirinya merugi sekitar Rp 400 ribu, ternyata Khalid pernah mengalami kerugian kembali dengan nilai jutaan rupiah. “Pernah rugi sampai Rp 8,5 juta. Waktu itu bikin proyek jaket Unair (Universitas Airlangga, red.). Sudah bikin spesifikasi, desain macam-macam terus kita kasihkan ke penjahit dan tukang bordir, ternyata hasilnya jauh dari harapan. Akhirnya konsumen tidak mau terima barangnya,” kata Khalid.

Padahal waktu itu Khalid sudah memproduksi sebanyak 100 buah. Ia akhirnya harus mencari pinjaman untuk mengganti uang konsumennya. Meski merugi berkali-kali, Khalid tidak patah semangat. Setelah melakukan evaluasi berkali-kali, ia mencoba menawarkan kembali jasa konveksinya ke kampus dan instansi-instansi lain. Hasilnya pun menurutnya berkali-kali lipat dibandingkan saat ia merugi dulu. “Alhamdulillah sampai sekarang masih terus ada orderan, sampai Rohis SMAN 1 Bontang juga mesannya disini,” ujar peraih Nominator Muda Award kategori Muda Berkarya dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS 2014.

Dari hasil usaha konveksinya saat ini, ia berhasil meraup omset hingga Rp 84 juta. Bahkan diakhir tahun atau awal tahun ajaran baru, jumlahnya bisa dua kali lipat. “Waktu di 2015 pernah sampai Rp 150 juta karena sekolah dan instansi pada bikin seragam baru. Pengurus organisasi kemahasiswaan juga biasanya ganti dresscode saat ganti kepengurusan,” kata Khalid.

Berkat usaha yang dijalaninya saat ini, kini Khalid tidak lagi bergantung kepada orangtua. Sejak tahun ketiga ia berkuliah, ia menghentikan segala jenis pendanaan dari orangtuanya. Keinginannya pun sempat membuat kedua orangtua Khalid khawatir. Namun lambat laun, mereka mengerti dan justru mendukung langkah anaknya. “Awalnya ya khawatir. Cuma pelan-pelan begitu usaha sudah mulai nunjukin hasilnya akhirnya orangtua mulai percaya sama pilihan anaknya ini,” jelas Khalid yang pernah menjadi juara pertama Lomba Esai Hari Narkotika Internasional 2016 yang diselenggarakan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Selain aktif berbisnis, Khalid ternyata menjadi salah satu dari 54 pemuda se Indonesia yang beruntung menjadi delegasi dalam Indonesia-China Youth Exchange Program (ICYEP), salah satu program pertukaran pemuda dari Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI). Khalid pun menjadi satu-satunya wakil Kaltim dalam pertukaran ini. Ia berkisah, jalannya untuk menjadi delegasi ke Tiongkok ini cukup berat. “Awalnya dapat info dari temen anak ITS yang juga jadi delegasi ke Tiongkok. Setelah coba-coba apply, ternyata lolos administrasi,” kata Wakil Menteri Perekonomian BEM ITS Kabinet Kolaborasi ini.

Setelah dinyatakan lolos administrasi, perjuangan Khalid selanjutnya yakni mengikuti tes tulis yang diadakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim. Tes inipun berhasil ia lewati dengan mulus, namanya nangkring di posisi kedua untuk tujuan Tiongkok. Namun tes belum berakhir. Ia masih harus melalui tes psikologi di hari yang sama. “Tesnya mulai jam 12 siang sampai maghrib. Itu benar-benar nguji mental tes beruntun kayak gitu dengan macam-macam jenis ujian, mulai dari menggambar, menghitung, wawancara, dan sebagainya,” tuturnya.

Hari kedua tes, ia masih harus melewati tes bahasa inggris atau Test of English as a Foreign Language (Toefl), wawancara bahasa inggris, dan Focus Group Discussion (FGD). “Nah FGD ini yang persentasinya paling tinggi, mencapai 30 persen dari total nilai. FGDnya ini tentang apa-apa saja yang sudah kamu lakukan untuk orang-orang disekitarmu, bisa jadi di kampus atau di masyarakat,” kata Khalid.

Hari ketiga ia tes merupakan hari yang paling membuat Khalid deg-degan. Pasalnya, disinilah ia diwawancarai di semua bidang, mulai agama, kesenian, teknik komunikasi, dan wawasan umum. Khusus wawancara kesenian ditambah dengan culture performance. “Kalau yang lain masih bisa dilewati, kecuali kesenian. Pas di tes kesenian juri bilangnya harusnya aku didiskualifikasi,” tambahnya.

Namun semua penantian itu terbalas. Ia lolos dan menjadi satu-satunya wakil dari Kaltim yang akan ke Tiongkok. Pada 16 September, ia berangkat menuju Negeri Tirai Bambu tersebut. Ia juga mempelajari enterpreneurship di sana. “Alhamdulillah, first time dapat kesempatan ke luar negeri fully funded. Impian dari dulu ke luar negeri jadi duta bangsa akhirnya tercapai,” ujar pemilik motto Struggling is my lifestyle.

Khalid punya pesan terkhusus pada mahasiswa Bontang yang merantau di kota orang, sekolah-sekolah di Bontang bisa jadi tertinggal dari sekolah-sekolah di Jawa. Namun, kata Khalid itu bukan alasan untuk pesimis. “Bontang punya banyak alumni yang memiliki kiprah luar biasa di tanah-tanah rantau termasuk Pulau Jawa bahkan luar negeri. Mereka bukan hanya menjadi follower, tapi bahkan menjadi leader di sana. Mereka-mereka inilah yang akan pulang mengabdikan ilmu-ilmunya untuk Kota Bontang,” pungkasnya. (***)

Link Terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7140-jadi-entrepreneur-muda-akan-belajar-bisnis-di-tiongkok

Ket: Judul dan beberapa dalam isinya dimodifikasi agar sesuai dengan perkembangan terbaru Khalid yang sudah berangkat ke Tiongkok.

Komentar Anda

Back to Top
%d blogger menyukai ini: