Pemuda Kini, Pemuda yang Berliterasi

SALAH satu dari tiga poin sumpah pemuda yang didengungkan 88 tahun lalu berbunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”  Pada zaman penjajahan, bahasa dijadikan sebagai alat perekat kesatuan antar suku bangsa di Indonesia. Tiap perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Bataks, hingga Jong Celebes dan Jong Ambon beserta perhimpunan pelajar juga keagamaan bersatu meleburkan perbedaan, menjadi satu kesatuan Indonesia.

Bahasa juga jadi poin penting dalam sumpah pemuda. Karena dengan bahasa itulah, setiap bangsa punya identitas. Dalam konteks kala itu, membedakan antara bangsa Indonesia dan bangsa penjajah. Menjadi kekuatan dalam diri untuk membangkitkan semangat berjuang melawan bangsa lain yang merebut kemerdekaan. Seluruh gerakan perlawanan kala itu dicetuskan oleh pemuda, yang cerdas dan intelektual.

Bahasa pun dapat dijadikan alat propaganda pemerintah saat rezim Orde Baru. Nyaris seluruh informasi yang beredar di masyarakat, harus melalui satu pintu Departemen Penerangan. Alih-alih “menerangkan”, justru “mengaburkan” informasi sebenarnya yang terjadi. Bahasa ibarat pisau bermata dua, di satu sisi dapat mempersatukan bangsa, di sisi lain juga dapat memisahkan bahkan memecah persatuan bangsa jika tidak digunakan dengan baik dan benar.

Penggunaan bahasa di masa kini dan masa lalu pun sangat berbanding terbalik. Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa resmi negara dan bangsa ini belum merasuk jauh dalam benak pemuda kini. Penggunaan bahasa gaul lebih disukai, bahkan bahasa daerah masing-masing juga belum tentu dipahami. Dari berbagai sumber persoalan, salah satu masalah pelik yang mengakibatkan terkikisnya Bahasa Indonesia adalah kurangnya membaca.

“Kan sudah tiap hari baca dan tulis status di medsos (media sosial).” Mungkin banyak pemuda kini yang menjawab seperti itu. Namun, sejatinya yang dimaksud adalah kemampuan membaca dan menganalisis yang kini disebut kemampuan literasi. Kemampuan untuk skeptis terhadap apa yang disajikan di buku maupun media massa, kemampuan untuk menganalisis, peduli, dan kemudian beraksi dari apa yang sudah dibaca dari bacaan. Kemampuan inilah yang jarang dimiliki pemuda masa kini, yang katanya sebagai generasi kekinian.

Yang tak banyak pemuda tahu, beberapa tokoh dunia menjadi besar karena kegemarannya dalam membaca. Ambil contoh Adolf Hitler, diktator Nazi yang terkenal itu. Dia mampu membangun imperium kekuasaannya dengan membaca buku dan mengaplikasikan ilmunya, meskipun digunakannya untuk kepentingan diri sendiri. Pendiri Apple, Steve Jobs pun juga sama. Rajinnya Jobs membaca dan mencoba dari ilmu yang didapatkannya, membuat dirinya menjadi orang besar dan produknya turut merajai pasar teknologi global. Pun pendiri bangsa kita, Soekarno melawan penjajah melalui buku bacaan dan pemikirannya yang kembali dituangkan dalam tulisan berjudul “Indonesia Menggugat”.

Kemampuan literasi inilah yang perlu dimiliki tak hanya pemuda, namun semua orang. Kemampuan ini perlu dilatih dan diasah agar pemuda masa kini mampu menganalisis dan mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dengan baik dan benar. Bagaimana pemuda kini bisa berwawasan luas, mampu berguna bagi sekitarnya, dan berjiwa nasionalisme. Menjadi pemuda yang berliterasi, jadi harapan di Hari Sumpah Pemuda ini. (*)

*)Penulis merupakan wartawan Bontang Post
Diterbitkan di Bontang Post, Jumat 28 Oktober 2016 di Halaman A1.

Komentar Anda