Prihatin Kemiskinan, Berawal dari Memilah Plastik

Sampah plastik yang sering diabaikan ternyata punya nilai ekonomi yang tinggi. Di tangan Thamrin, justru sampah-sampah ini menjadi jalannya memberdayakan masyarakat sekitar Bontang Lestari.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

AWAL 2011 jadi tahun yang cukup berat bagi Thamrin. Tokoh masyarakat Bontang Lestari ini merasa prihatin melihat kondisi warganya yang sebagian besar merupakan masyarakat miskin. Akhirnya, ia meminta kepada Dinas Kebersihan untuk memberikan izin memilah sampah plastik yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tidak berhenti disitu. Setelah mendapatkan izin dari dinas terkait, Thamrin mengupayakan mendapatkan bantuan dari perusahaan. Ia memutuskan membuat proposal ke PT Badak LNG. Kabar baik berhembus, perusahaan pengolah gas alam cair memutuskan membantu usaha Thamrin. Ia diberikan modal dasar sekitar Rp 125 juta, mesin, dan bangunan. Tak hanya Badak LNG, Pemkot Bontang mengizinkan penggunaan lahan TPA sebagai tempat usaha Thamrin mencacah plastik. “Saya ini kan kasihan melihat warga disini tidak ada kesibukan. Lebih baik saya bukakan lapangan pekerjaan, diberdayakan disini,” kata pria asal Sidrap Sulawesi Selatan.

Perjalanan pria berusia 58 tahun mengelola usaha pencacah plastik ini tak semulus yang diharapkan. Diawali hanya dengan sepuluh orang, usahanya sempat tersendat karena salah memilih orang yang dipercaya. “Saya minta orang lain megang malah hancur. Mesin juga ikut hancur. Masih merugi banyak lah, karena fokus kita masih sosial, bukan cari untung juga,” kisahnya.

Meski begitu, Thamrin tidak ingin terus terpuruk. Pria yang juga Ketua RT 02 Baltim Bontang Lestari ini mencoba bangkit kembali. Dievaluasi kembali apa yang kurang, kemudian ia mencari solusinya. Saat ini, usaha pencacah plastik Thamrin maju pesat. Bernaung dalam Kelompok Bontang Lestari Peduli binaan Badak LNG, kini ia bisa meraih omset hingga 90-100 juta per bulannya. Rekanannya pun pabrik-pabrik plastik skala besar di Surabaya dan Gresik. “Kita biasa kirim 14 ton ke Surabaya dan Gresik. Dikapalkan lewat Balikpapan langsung ke pabriknya, jadi tidak lewat jalur lain,” ungkap Thamrin.

Dari hasil pencacahan plastik ini, dirinya juga bisa memberikan upah kepada para karyawannya. “Kalau ibu-ibu antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta, bapak-bapak sekitar Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta. Mereka juga diantar jemput naik mobil khusus. Karena rumah mereka jauh, rata-rata di Pagung sekitar dua kilo lebih dari sini. Kalau jalan memutar malah bisa tiga jam,” ujarnya.

Ada hal unik dari tempat pencacah plastik usaha Thamrin ini. Meski berlokasi di TPA, kebersihan di sekitar tempat usahanya justru terjaga. Nyaris tak ada bau yang tidak sedap. “Kita tetap berusaha menjaga kebersihan disini. Lihat sendiri kan, mas. Tidak ada sampah berserakan disekitar sini,” tunjuknya.

Selain kebersihan yang terjaga, Thamrin baru saja mendapatkan barang baru dari Badak LNG. Mesin penyulingan minyak dari pembakaran plastik namanya. Uniknya, tidak hanya satu jenis minyak yang dihasilkan dari pembakaran ini, tapi sampai tiga jenis, yaitu minyak tanah, solar, dan bensin. Satu kilo plastik yang dibakar bisa menghasilkan satu liter minyak dengan mesin ini. “Ini baru dapat sekitar tiga bulan. Hari ini (kemarin 2/9, Red.) rencananya akan dikunjungi oleh Badak LNG,” kata Thamrin.

Usaha yang kian pesat ini membuat Thamrin akhirnya menambah jumlah anggotanya. Dari yang pertama hanya sepuluh orang, kini anggotanya sudah mencapai 60 orang. Bahkan, ia juga bermitra dengan hampir seratus pemulung yang ada di Bontang untuk penyediaan sampah plastiknya. “Kalau di luar hampir seratusan. Kalau di tempat ini dibagi 3 bagian, pemilahan, pencacahan, dan pemulung,” tambahnya.

Selain mengurangi sampah plastik di TPA, Thamrin berharap dengan usahanya ini dapat memberdayakan masyarakat yang benar-benar membutuhkan. “Ini bukan bisnis seratus persen. Tapi supaya warga disini dapat lapangan pekerjaan. Lagipula kan juga bisa mengurangi sampah plastik yang perbulannya bisa sampai 15-17 ton perbulan di TPA. Kami juga mau minta ke perusahaan untuk memberikan 200 lembar atap seng. Rencananya mau kita kasih atap semua biar teduh,” harapnya. (***)

 

Link Terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7115-prihatin-kemiskinan-berawal-dari-memilah-plastik.html

Komentar Anda

Back to Top
%d blogger menyukai ini: