Kenalkan Bontang lewat Batik Kuntul Perak, Dapat Pujian Presiden

Bontang memang dikenal sebagai kota industri. Tapi tak banyak yang mengenal maskot kota yang berjuluk Kota Taman ini. Sayid Abdul Kadir Assegaf berusaha memperkenalkan Burung Kuntul Perak melalui karya batiknya.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

KADIR, sapaan akrabnya bukan merupakan pebatik murni. Lulusan Komunikasi Bisnis di salah satu universitas di Jakarta ini dulunya merupakan karyawan hotel. Namun darah seninya tidak bisa dibohongi. Pada 2004, ia kembali ke Bontang meneruskan usaha milik orangtuanya dibidang cinderamata khas Kalimantan. “Dulu saya jualan cinderamata di Indo Niaga,” kata Kadir saat ditemui di galerinya Jalan Brigjen Katamso No. 25 Bontang Barat.

Bersamaan dengan itu pula, ia menjadi mitra binaan dari PT Pupuk Kaltim. Kadir pun diguyur modal usaha dari perusahaan yang bergerak dibidang pupuk ini. Perusahaan ini juga membantu pelatihan dan promosi produk-produk cinderamatanya. Hingga 2007, ia diboyong oleh Pupuk Kaltim menuju Kuala Lumpur Malaysia bersama ratusan pengrajin lainnya dari seluruh Indonesia.

Saat pameran di Malaysia, suami dari Ellen Aprilyana ini membawa beberapa cinderamata khas Kalimantan Timur (Kaltim) yang akan dipamerkan, seperti Sarung Samarinda, Kain Ulap Doyo, dan Batik Kaltim. Saat disanalah, batik yang dipamerkannya menjadi sorotan banyak pihak. “Karena waktu itu lagi heboh Malaysia mengklaim batik. Pameran disana menunjukkan kepada dunia kalau batik adalah warisan budaya Indonesia,” katanya.

Dari pameran tersebut, Kadir mendapatkan ide untuk membuat barang kerajinan yang benar-benar khas Bontang. Bapak dua anak ini juga sempat mengutarakan niatnya kepada Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM). “Waktu itu saya bilang, ingin buat kerajinan khas Bontang dengan tiga kriteria, pertama yang ringan dibawa, kedua yang terjangkau, dan yang ketiga yang tidak cepat habis atau awet,” ungkap Kadir.

Hingga akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk berlatih membatik namun melalui media kayu di Balikpapan. Sejak itulah tercetus ide, batik akan menjadi kerajinan yang akan diproduksinya. Dirinya juga sempat ingin dimagangkan membatik oleh Disperindagkop pada 2009, namun karena berbenturan dengan pameran yang diikutinya, maka kesempatan itu tidak diambilnya.

Meski begitu, Kadir mencoba meminta Disperindagkop untuk memanggil guru khusus membatik. “Ini biar satu guru bisa mengajari banyak orang di Bontang. Kalau dikirim buat magang kan cuma satu yang pintar. Alhamdulillah Disperindagkop menyetujui dan lebih dari 20 orang belajar membatik,” tutur pria yang sempat mengeyam pendidikan SMP di Bontang ini.

Usai belajar membatik, Kadir akhirnya memutuskan untuk membuat motif Burung Kuntul Perak. Ia menyadari, banyak orang di Bontang yang tidak tahu mengenai burung ini. “Saya sempat tanya beberapa orang di pemerintahan saja banyak yang tidak tahu maskot Bontang ini. Saya sendiri sampai menunggu berjam-jam di sekitar lapangan PT Badak untuk melihat burung ini,” kata Kadir.

Ia pun menemukan filosofi yang sesuai antara Burung Kuntul Perak yang menjadi maskot Kota Taman ini dengan masyarakat Bontang. “Burung ini kan merupakan burung pendatang di suatu daerah. Mereka juga berkelompok dan juga energik. Sesuai dengan ciri khas Bontang yang rata-rata merupakan pendatang, hidup berkelompok, serta enerjik yang berarti pekerja keras yang juga menunjukkan rata-rata masyarakat Bontang ini pekerja,” ungkap Kadir.

Kadir (kanan) menunjukkan batik yang baru saja diwarnai. (Zulfikar/Bontang Post)
Kadir (kanan) menunjukkan batik yang baru saja diwarnai. (Zulfikar/Bontang Post)

Sedangkan pohon mangrove yang juga ada bersama maskot Burung Kuntul Perak menunjukkan rata-rata wilayah di Bontang terutama di daerah pesisir merupakan hutan mangrove. “Saya sendiri saat melihat Bontang melalui pesawat melihat sebagian besar merupakan mangrove. Hal ini yang membuat saya yakin saya ingin memperkenalkan Bontang melalui batik,” katanya.

Di 2010 akhir, Kadir mulai merintis usaha batiknya. Namun bukan langsung membatik, melainkan menertibkan administrasi terlebih dahulu. Mulai dari perijinan, membuat badan usaha berbentuk CV, dan mendaftarkan hak merek dagang ke Direktorat Jenderal (Dirjen) Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI). “Hak merek Batik Kuntul Perak resmi terdaftar pada 2013. Sekarang ini lagi proses hak paten, rencana bulan depan sudah keluar dan berlaku sampai 2027,” ujarnya.

Pesanan pertama kali batik buatannya datang dari istri Wali Kota waktu itu, Najirah Adi Darma. Ia meminta Kadir menunjukkan batik-batik yang sudah dibuatnya. Saat itu, Kadir baru membuat 10 jenis motif. Motif kuntul perak dengan dasar kain berwarna merah yang akhirnya dipesan Najirah. “Rencananya, baju ini dipakai saat menghadiri acara di Jakarta. Namun ternyata dipakai duluan saat acara di Bontang. Yang pertama saat menghadiri acara di PT Badak, yang kedua saat dipakai acara di Hotel Equator. Sejak itulah banyak yang bertanya-tanya batik rancangan saya,” tutur Kadir.

Ada yang unik dari motif batik kuntul perak yang jadi pilihan Najirah. Secara khusus, ia meminta untuk tidak memproduksi lagi motif batik yang sama. “Jadi Bu Wali waktu itu ngomong jangan dijual lagi. Sampai sekarang masih saya simpan batiknya,” kenangnya.

Meski sudah berganti pemerintahan, pesanan dari pemerintah selalu datang kepadanya. Ia mengungkap, saat Wali Kota Neni Moerniaeni akan dilantik, ia memesan khusus baju batiknya dari Batik Kuntul Perak. “Jadi batik yang dipakai saat beliau dilantik itu dari kami. Sampai sekarang, hampir 80 persen dinas memakai seragam batiknya dari Batik Kuntul Perak,” ujar Kadir,

Cerita unik lainnya datang saat kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Bontang untuk meresmikan pabrik Kaltim-5. Saat itu, hampir seluruh panitia dari Pupuk Kaltim menggunakan seragam dari Batik Kuntul Perak, termasuk penerima tamu yang merupakan Duta Pariwisata Bontang kala itu. “Ini yang bikin saya gemetaran, saat presiden menyalami Duta Pariwisata waktu itu, Jokowi bilang ‘Batiknya darimana ini? Kok Bagus?’ Setelah mengetahui batik tersebut dari Bontang, Jokowi dan Iriana yang juga mendampinginya kaget. ‘Wah Bontang juga punya batik ya’. Saya yang mendengarnya terasa gemetar, senang dan bangga rasanya presiden mengapresiasi karya kami,” tutur Kadir.

Batik Kuntul Perak karya Kadir tidak berhenti di sini. Pada ajang Jakarta Fashion Week (JFW) Oktober 2015 lalu, batik karyanya menjadi satu-satunya batik yang tampil secara gratis.

Padahal untuk mengikuti ajang tersebut, tiap desainer bisa merogoh kocek sebesar Rp 150 juta. Ini juga berkat kolaborasi apik antara Kadir dengan desainer yang juga berasal dari Kota Taman, Iwan Amir. Putra Bontang asal Guntung ini, menurut Kadir kagum dengan batik kuntul perak bikinannya. “Waktu bertemu sebenarnya tidak yakin ia bakal mengangkat batik ke JFW. Ternyata, saat saya lagi di galeri dia muncul dan melihat-lihat batik yang saya punya. Setelah beberapa jam, akhirnya ia putuskan untuk membawanya ke JFW,” katanya.

Membawa motif batik ‘Btrumpa’ yang berarti berbenturan, Kadir membuat motif tersebut seperti motif batik kaltim namun bentuknya yang tidak sempurna dan berbenturan. Justru, motif inilah yang membuat juri di JFW memutuskan batik karya Kadir bisa tampil di JFW. “Kata mereka batik ini mirip dengan ukiran klasik di Milan. Sedangkan kiblat fashion salah satunya juga dari sana. Padahal saya sama sekali tidak pernah searching atau melihat ukiran tersebut. Semua murni ide saya,” ujar Kadir.

Kini, dari usaha yang didirikannya ia mampu meraih omset sekitar Rp 80 juta per bulannya. Ia juga mempunyai sekitar sepuluh penjahit di Bontang Barat yang bermitra dengannya dalam memproduksi batik-batik buatannya. “Kalau sekarang sedikit menurun karena imbas defisit anggaran juga. Makanya kini saya juga memutar otak agar ditengah lesunya perekonomian, mereka tetap melirik batik ini,” kata Kadir.

Meski perekonomian sedikit lesu, namun ia mengapresiasi mulai banyaknya batik-batik khas Bontang lain yang mulai bermunculan. “Itu sangat bagus. Berarti motif khas Bontang ini akan semakin kaya dan bervariasi. Sekarang tinggal bagaimana bersaing secara sehat dan sama-sama adu kreativitas dalam hal batik,” harapnya. (***)

 

Link berita terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7071-kenalkan-bontang-lewat-batik-kuntul-perak-dapat-pujian-presiden.html

Komentar Anda

Back to Top
%d blogger menyukai ini: