Latih 40 Warga Menjahit, Alumninya Sukses Buka Usaha

Tanpa kita sadari, sosok inspiratif selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Seperti halnya Nur Hidayati, pendiri Koperasi Cipta Busana atau Kocibu yang juga sukses mengantarkan 40 siswanya sukses menjahit, bahkan sukses membuka usaha serupa di kota orang.

Muhammad Zulfikar Akbar, Bontang Post

PEREMPUAN paruh baya ini masih tetap semangat meski usianya tak lagi muda. Di sebuah workshop menjahit miliknya yang terletak di Jalan Balikpapan 2 RT 14 Kelurahan Gunung Telihan, sesekali ia mengawasi anggota koperasinya yang sedang asyik menjahit, tak jarang pula ia turun langsung ikut menjahit bersama anggotanya.

Kesuksesan Nur Hidayati dalam bidang menjahit ini diawali saat 2012 mendirikan Kelompok Mitra Sejati. Pada awalnya, ia resah karena penjahit di Bontang sangat jarang yang punya keterampilan lebih. Berbagai proyek tender seragam dari perusahaan selalu memanggil penjahit dari luar kota. Tidak memanfaatkan penjahit lokal Bontang. “Ini yang jadi permasalahan dan pembahasan kami setiap berkumpul. Kami butuh keterampilan yang lebih dalam bidang menjahit,” kata Nur.

Istri dari Istanto Purbowo ini tak kehabisan akal. Ia mencari cara bagaimana penjahit-penjahit di Bontang tak kalah terampil dengan penjahit luar kota. Nur akhirnya membuat proposal kepada PT Badak LNG untuk dibantu. “Namanya minta ya semua yang kami butuhkan kami cantumkan,” ujarnya.

Gayung bersambut, manajemen Badak LNG menerima proposal Nur. Berbagai bantuan pun diberikan, tak hanya materi seperti kain, mesin jahit, benang, dan perlengkapan menjahit lainnya. Namun juga pelatihan langsung dari ahlinya. Untuk angkatan pertama ini, Nur memboyong 20 orang. Semuanya merupakan ibu-ibu menengah ke bawah yang dirasa memang membutuhkan. “Kami menyeleksi ketat, karena ini dibantu oleh perusahaan ya kami minta untuk tidak main-main, apalagi mereka meninggalkan suami dan anak di rumah,” tuturnya.

Selama tiga bulan berlatih dibawah binaan Badak LNG, kini usahanya sedikit demi sedikit terlihat. Keterampilan ibu-ibu binaannya meningkat. Meski tak seluruhnya yang akhirnya meneruskan menjahit karena harus ikut bersama suami, ia tak menyerah. Nur membuka kembali angkatan kedua. Masih sama dengan yang angkatan pertama, ia kembali menggaet 20 orang. Namun kali ini lebih variatif. Tak hanya ibu-ibu, yang muda pun berminat. “Ada yang baru lulus SMA, ada juga yang sambil kuliah,” kata Nur.

Nur pun tak jarang turun langsung mengajarkan pengalamannya selama ini menjadi penjahit. Meski tak bisa menjelaskan dengan rumus ataupun teori, namun prinsipnya yang penting ilmunya mudah dipahami oleh anggota-anggotanya. “Seperti bikin pola kan biasanya ada rumus-rumusnya. Nanti kasihan anggota saya tidak ngerti. Saya ajarkan sesuai pengalaman saya menjahit, yang penting mereka paham dan bisa melakukannya dengan baik,” ujarnya.

Hasil didikan Nur dan Badak LNG kini membuahkan hasil. Banyak alumninya yang tersebar diseluruh wilayah di Bontang, bahkan sampai Berau. “Hampir di seluruh kelurahan ada alumni kita tersebar. Ada yang ikut di butik-butik, ada yang buka permak baju, yang buka usaha menjahit juga banyak. Ini malah ada satu yang buka usaha di Berau karena ikut suaminya pindah kesana. Sampai sekarang masih tetap memberi kabar,” ucap Nur.

Produk yang dihasilkan oleh Nur beserta anggotanya pun bermacam-macam. Tak hanya seragam, namun berbagai produk seperti tatakan piring dan gelas, mukenah, dompet, bantal sandaran mobil, dan lain-lain. Ia juga membuat gaun dari daur ulang kain perca dan daur ulang bungkus detergen. “Yang kain perca ini pernah dibawa PT Badak ke Jakarta untuk dipamerkan,” katanya.

Di 2014, melihat perkembangan kelompok binaannya yang maju pesat, Badak LNG menyarankan untuk dibentuk lembaga. Kata Nur, kalau berbentuk kelompok kan hanya sebagai perkumpulan, tapi kalau sebagai lembaga kan diharapkan bisa mandiri. “Mungkin tujuan Badak LNG membentuk mitra binaan agar kedepan bisa mandiri. Kami juga tahu diri masa selalu minta dibantu oleh perusahaan,” katanya.

Setelah berbagai pertimbangan, Nur akhirnya memilih bentuk koperasi. Persiapan pendiriannya pun memakan waktu hampir 11 bulan lamanya. Sampai akhirnya, pada 1 September 2015 resmi berdiri Koperasi Cipta Busana. “Dengan dibentuknya koperasi ini, maka secara resmi kami bisa ikut tender perusahaan dalam pengadaan seragam dan sebagainya,” ujar Nur.

Tak hanya Badak LNG, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disperindagkop dan UMKM) juga memberikan bantuan puluhan mesin jahit. Sebenarnya, mereka sempat menanyakan kenapa bentuknya tidak koperasi wanita saja mengingat seluruh anggotanya merupakan perempuan. “Kami tidak mengubah bentuknya sebagai koperasi wanita karena itu berarti membatasi diri. Kami tidak tahu kedepan bisa saja ada laki-laki yang juga menjahit. Kami tidak menutup kemungkinan itu,” tuturnya.

Badak LNG pun diakuinya terus melakukan pendampingan dengan memberikan pelatihan administrasi, mengelola keuangan, dan sebagainya. Kini, Nur tengah mengerjakan tender pengadaan seragam Badak LNG. Karena ini proyek pertama, nominalnya berkisar Rp 55 juta. “Meskipun kami ini mitra binaan, bukan berarti kami diloloskan juga saat ikut tender. Kami juga bersama peserta tender lain ikut berkompetisi dalam pemenangan tender tersebut,” katanya.

Ia berharap, koperasi ini bukan untuk mencari untung semata, tapi bagaimana membantu menaikkan taraf ekonomi anggotanya. “Sekarang saja anggota yang kerjanya tersebar di berbagai wilayah di Bontang ini setidaknya punya keuntungan Rp 1,5-2 juta per bulannya. Sedangkan yang membuka usaha menjahit sendiri bisa menghasilkan hingga Rp 10 juta per bulan,” ungkap Nur.

Nur juga berharap kedepan seluruh hasil produksinya dapat dijual secara online. Tak lupa ia berterima kasih kepada Badak LNG yang sudah membina kelompoknya hingga sukses saat ini. “Kami memang lemah dalam bidang promosinya. Inginnya nanti bisa dijual secara online, biar pangsa pasarnya semakin luas. Kami juga terimakasih kepada PT Badak yang sudah peduli pada warga sekitar. Bantuan yang diberikan sangat berguna dalam kehidupan kami,” harapnya. (***)

Link Berita Terkait: http://bontang.prokal.co/read/news/7051-kisah-inspiratif-latih-40-warga-menjahit-alumninya-sukses-buka-usaha.html

2 komentar pada “Latih 40 Warga Menjahit, Alumninya Sukses Buka Usaha

Komentar Anda