Program TV Ramadan Belum Sehat

MESKIPUN bulan ini disebut Bulan Suci Ramadhan, ternyata beberapa stasiun televisi di Indonesia belum ikut tersucikan. Baru-baru ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat memberi peringatan kepada tiga program acara ramadhan. Ketiga program tersebut yakni Pesbukers Ramadhan yang ditayangkan di anTV, Majelis Sakinah yang ditayangkan iNews TV, dan OVJ Sahur Lagi yang ditayangkan di Trans7.

Meskipun jumlah program tv yang melanggar tahun lalu berkurang, namun program Pesbukers ternyata tidak menunjukkan gejala perbaikan konten siaran. Di Ramadhan 2015, ada lima program yang kena semprit KPI, sedangkan tahun ini sementara ada tiga program.

Ketiga program ini, menurut surat peringatan yang dikirimkan oleh KPI (dapat dilihat di website kpi.go.id) melanggar aturan tentang norma kesopanan. Untuk tayangan Pesbukers Ramadhan, pada tayangan edisi 15 Juni melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 SPS) tentang norma kesopanan serta perlindungan anak-anak dan remaja. Menurut KPI, program tersebut menampilkan Zaskia Gotik melakukan gerakan goyang nyolot dengan cara mengarahkan (maaf) bagian dadanya ke seorang pria.

Untuk tayangan Majelis Sakinah yang ditayangkan pada 8 Juni juga melanggar sama seperti program Pesbukers Ramadhan, namun tambahan pelanggaran di penggolongan program siaran dalam P3 SPS. Meskipun program tersebut adalah program dakwah, namun muatan siaran di dalamnya mengandung muatan dewasa karena membahas secara detil mengenai malam pertama seorang pria dan wanita. Program ini dinilai melanggar jam tayang sesuai konten siarannya. Program siaran dengan tema-tema dewasa hanya bisa disiarkan mulai pukul 22.00 Β 03.00 waktu setempat. Sedangkan Majelis Sakinah ditayangkan pukul 09.04 WIB.

Sementara, tayangan OVJ Sahur Lagi yang tayang pada 10 Juni dianggap tidak memperhatikan ketentuan tentang norma kesopanan dalam P3 SPS. Dalam surat peringatannya, program tersebut menampilkan adegan seorang pria yang didorong dari belakang hingga seorang wanita ikut terjatuh. Selain itu pada tanggal 8, 11, 12, dan 13 Juni Β terdapat kalimat-kalimat ejekan antar pemain yang bersifat merendahkan, seperti penghapus pensil, cilok bandung, abi ngepet, mukanya kayak zebra cross.

Bulan Ramadhan memang menjadi ajang para stasiun televisi baik lokal maupun nasional menampilkan konten-konten terbaiknya dalam memanjakan pemirsanya. Jam primetime pun juga mengalami perubahan, yang biasanya terjadi pada pukul 17.00 hingga 20.00, kini mulai pukul 02.00-05.00 termasuk jam primetime. Masyarakat pasti mencari hiburan sembari menikmati makan sahur dan juga menjelang berbuka puasa.

Namun sayang, hanya demi share dan rating semata, masih banyak program siaran yang mengabaikan asas kebermanfaatan dan pentingnya program siaran. Dapat kita jumpai, tiap waktu sahur maupun saat berbuka puasa, sebagian besar isi televisi selalu berkutat dengan komedi, komedi, dan komedi. Hanya sedikit sekali yang menyajikan konten-konten bermanfaat seperti kajian-kajian keagamaan misalnya. Lucunya, tiap tahun selalu itu-itu saja kontennya, tidak ada perubahan. Ya, seputar komedi yang hampir tidak ada manfaatnya.

Saya tidak menyalahkan jika tayangan komedi itu buruk. Tidak. Hanya saja, para perancang programnya atau tim kreatifnya tidak bisa memberikan sentuhan yang menarik dan memberikan nilai-nilai serta manfaat dari tayangan tersebut. Yang penting, orang bisa tertawa, rating dan sharenya naik, maka tayangan itu sukses.

Padahal, jika tim kreatifnya mau lebih kreatif, bisa saja tayangan-tayangan tersebut diselipkan nilai-nilai moral di dalamnya, yang bisa dengan mudah diingat oleh pemirsa, dan bisa diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Tapi, sebagai catatan, porsinya jangan hanya lima sampai sepuluh menit saja. Kebanyakan, program yang tayang saat sahur kali ini, menghadirkan ustad atau mubalighnya hanya di segmen terakhir, sebelum tayangannya berakhir.

Meski masih ada pelanggaran program siaran di Bulan Ramadhan kali ini, ternyata juga masih banyak tayangan-tayangan ramadhan yang patut kita apresiasi karena isi kontennya yang bermanfaat dan mampu menghibur bahkan memberikan informasi baru. Seperti Muslim Travelers di NET TV yang menceritakan kisah kaum muslim di negara lain, Hafiz Indonesia di RCTI, film-film bertema religi seperti Negeri 5 Menara yang tayang di Trans7, Tafsir Al Misbah di MetroTV, dan masih banyak lagi.

Program-program diatas rata-rata sudah memenuhi tiga dari empat fungsi media massa seperti yang diucapkan pakar komunikasi, Harold D. Laswell, yakni fungsi menginformasi (to inform), mendidik (to educate), dan menghibur (to entertain). Sedangkan fungsi keempat yakni fungsi pengawasan yang lebih tepat untuk program siaran berita.

Stasiun televisi, sebelum membuat suatu program mestinya berpatokan pada minimal empat fungsi media ini. Bukan rating dan share semata yang dijadikan pegangan membuat program. Selama ini, para pengelola program mendewakan rating dan share agar dapat menarik iklan sebanyak mungkin. Namun tidak memperhatikan efeknya kepada masyarakat atau pemirsa yang menontonnya.

Bulan Ramadhan ini seharusnya jadi ajang yang baik untuk memperbaiki kualitas konten siaran televisi. Karena televisi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat, maka apapun yang ditayangkan oleh kotak ajaib ini akan ditiru baik secara sadar maupun tidak sadar oleh pemirsanya di kehidupan sehari-hari.

KPI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan himbauan agar tayangan selama Bulan Ramadhan dijaga sebaik mungkin demi menjaga kekhusyukan beribadah masyarakat yang menjalankan ibadah puasa. Jika menurut beberapa ulama, Bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah atau bulan pendidikan bagi tiap insan agar dapat berperilaku baik selama sebelas bulan berikutnya, maka Bulan Ramadhan ini juga adalah bulan pendidikan bagi pengelola stasiun televisi untuk memperbaiki kualitas konten siaran televisinya selama sebelas bulan kedepan. (***)

*) Penulis merupakan pengamat media dan Koordinator Menulis Artikel Rumah Inspirasi Malang.

Dipublikasikan di Malang Post, 29 Juni 2016 halaman Opini.

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *