Stop Menebar Teror di Sosmed!

INDONESIA kembali dirundung duka. Kamis (14/1) siang, Ibukota Indonesia, DKI Jakarta diserang aksi teror pemboman di Pos Polisi Jl. Thamrin, Sarinah, Jakarta. Dari laporan Humas Polri di akun Facebook resminya, tujuh orang ditetapkan menjadi tersangka. Tiga tewas dalam baku tembak antara pelaku dan kepolisian, sedangkan empat orang lainnya berhasil ditangkap polisi.

Aksi terorisme ini tentu mengguncang negeri ini, terlebih terjadi di ibukota Indonesia. Berbagai cuitan di media sosial Twitter dan rekaman detik-detik pemboman tersebar pula di media sosial Facebook. Bahkan beberapa media massa terutama media daring langsung menggunakan rekaman tersebut untuk dipublikasikan di laman beritanya. Di media sosial Twitter, tanda pagar (tagar/hashtag/#) PrayforJakarta sampai menjadi trending topic worldwide.

Mudahnya mengakses internet terutama media sosial menjadikan masyarakat Indonesia juga dengan mudah menyebarkan berbagai informasi yang saat itu menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen (sebutan pengguna internet/penduduk dunia maya). Berbagai foto usai pemboman yang penuh korban dan darah dengan mudahnya di share begitu saja di media sosial. Semua berlomba menjadi yang tercepat dan nomor satu dalam menyebarkan informasi.

Padahal kita semua tahu, efek dari media sosial sangatlah luas. Jika satu informasi saja di share, maka orang lain yang berteman dengan kita akan kembali membagikan informasi tersebut, dan temannya yang lain juga akan ikut-ikutan membagikan, begitu seterusnya. Jadi, seandainya satu orang yang punya dua ribu teman di Facebook, membagikan satu postingan informasi mengenai teror, maka akan dibaca oleh dua ribu teman tersebut. Andaikan dari dua ribu teman tersebut ada lima puluh temannya yang kemudian membagikan informasi tersebut dan misalnya tiap temannya itu punya seribu teman lagi, maka informasi yang dibagikan tersebut akan dibaca sekitar 50ribu orang. Begitu seterusnya.

Maka, wajar saja jika dalam waktu kurang dari satu jam, informasi terkait pemboman dan aksi terorisme ini sudah beredar di jagat dunia maya dan diketahui hampir separuh dari penduduk Indonesia. Efek yang viral ini akan membuat masyarakat Indonesia akan bereaksi sama: berduka. Namun, berduka yang berlebihan juga membuat buruk keadaan Indonesia.

Reaksi berlebihan dengan menggunakan berbagai hashtag seperti #PrayforJakarta di dunia maya akan memberikan dampak yang luar biasa di dunia nyata. Diperkirakan, harga saham akan turun, rupiah akan semakin melemah, investor akan kembali enggan menanamkan uangnya di Indonesia, dan berbagai macam dampak lainnya. Ini baru dampak ekonomi. Dari dampak psikologis, masyarakat akan semakin merasa tidak aman karena aksi terorisme tersebut. Ini semua terjadi karena satu hal, media sosial.

Selain di Jakarta, saya juga mencontohkan hal yang sama yang terjadi di kota kelahiran saya, Bontang, Kalimantan Timur. Seminggu ini kota berjuluk Kota Taman ini dirusak keamanan dan ketentraman warganya oleh aksi perampokan beserta pembunuhan. Pemilik toko emas di Bontang ini dibacok hingga tewas oleh segerombolan perampok yang berkedok pembeli emas. Dalam sekejap, video dari Closed Circuit Television (CCTV) yang merekam aksi perampokan dan pembunuhan tersebut juga tersebar di dunia maya. Meski tidak terlalu terlihat jelas, namun video-video aksi kriminal seperti ini jelas meresahkan masyarakat.

Memang aksi-aksi seperti ini ingin diketahui oleh masyarakat secara cepat. Namun akibatnya pun berkepanjangan. Masyarakat akan dirundung teror dan tak tenang untuk melakukan segala aktivitasnya. Namun seharusnya masyarakat juga perlu paham, jangan mengatasnamakan kecepatan kemudian mengabaikan verifikasi. Hal tersebut juga berlaku bagi pelaku media massa.

Hanya karena ingin mengejar predikat sebagai stasiun televisi yang tercepat melaporkan misalnya, sampai-sampai mengabaikan keamanan reporternya sendiri. Hanya karena ingin mengejar kecepatan dalam mempublikasikan informasi tersebut di media daring, sampai-sampai mengabaikan verifikasi keaslian dan keabsahan video atau foto tersebut. Bahkan foto-foto penuh darah pun bisa-bisa lupa disensor. Dalam Kode Etik Jurnalistik pasal 4, disitu tertulis wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Aksi-aksi seperti ini saya golongkan masuk dalam berita sadis, dan banyak media massa yang sepertinya tanpa sadar melanggar kode etik tersebut.

Masyarakat juga tidak perlu terburu-buru mempublikasikan segala bentuk informasi berupa audio, visual, atau audio visual terutama terkait teror seperti ini. Jika perlu, serahkan kepada kepolisian untuk membantu penyelidikan, atau publikasikan di media massa dengan catatan beberapa bagian yang tidak pantas dipublikasikan disensor terlebih dahulu. Kemudian, masyarakat jangan terpancing provokasi oleh media-media yang mengatasnamakan agama. Media-media tersebut belum tentu merupakan media yang kredibel. Jika sudah terprovokasi, kemudian sudah membagikan postingan yang di share media tersebut, maka itu sama saja anda sudah membantu terorisme menyelesaikan misinya: mengganggu ketentraman masyarakat.

Saya rasa masyarakat kini sudah sadar, betapa media sosial punya dua mata pisau yang sama-sama tajam. Jika digunakan dengan bijak akan menimbulkan kemanfaatan, jika digunakan sembrono dan tanpa pengetahuan yang cukup akan menimbulkan gangguan. Saya cukup senang ketika mendapatkan broadcast peringatan dari teman-teman saya di BlackBerry Messenger (BBM), bahwa berhati-hatilah dalam menyebarkan informasi kepada publik apalagi mengenai isu terorisme. Ini sudah menunjukkan jika masyarakat Indonesia, terkhusus teman-teman saya sesama mahasiswa di berbagai daerah juga sudah melek media. Dan pesan-pesan seperti ini wajib hukumnya disebarkan kembali kepada setiap warga agar mengecilkan kesempatan pelaku teror ini meneror warga Indonesia.

Kutuk aksi terorisme? Iya. Berduka dengan peristiwa ini? Iya. Tapi jangan berlebihan meluapkan di media sosial. Cukup doakan mereka yang menjadi korban, dan sebar pesan-pesan optimisme bahwa Indonesia bisa bangkit dan melalui peristiwa-peristiwa ini dengan damai dan tenang. (***)

*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM 2012, Pengamat Media, Direktur Utama MediaMahasiswa.com, dan Ketua Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) cabang Malang.
Dipublikasikan di Malang Post, 20 Januari 2016ย halaman Opini.
opini stop menebar teror

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

One comment on “Stop Menebar Teror di Sosmed!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *