Oasis Tayangan Berkualitas Indonesia

MENUTUP 2015, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar Anugerah KPI 2015 pada 2 Desember lalu. Acara yang disiarkan secara langsung oleh NET TV ini memberikan penghargaan kepada tayangan-tayangan yang dinilai berkualitas. Tak hanya televisi saja, namun radio juga turut masuk di dalamnya ditengah gempuran social media dan media daring saat ini.

Bagi yang tidak mengikuti gelaran tersebut, berikut adalah para pemenang penghargaan Anugerah KPI 2015. Di kategori program anak-anak, program Bocah Petualang dari Trans 7 berhasil menyabet anugerah tersebut. Kemudian untuk kategori program animasi, Indosiar berhasil meraih juara dalam program Keluarga Somad. Di kategori drama, program Single and Hopefully Happy dari Kompas TV berhasil meraih penghargaan tersebut, dan program Entertainment News NET TV memperoleh anugerah di kategori program infotainment.

Untuk program talkshow terbaik, Kick Andy dari Metro TV berhasil meraih penghargaan tersebut, dan NET TV kembali meraih kategori program feature untuk program Indonesia Bagus. TVRI mendapat penghargaan di kategori iklan layanan masyarakat televisi, dan Prambors Radio mendapat penghargaan di kategori iklan layanan masyarakat radio.

Di kategori lembaga penyiaran televisi peduli perbatasan, NET TV lagi-lagi memperoleh anugerah untuk program Lentera Indonesia. Untuk radio peduli perbatasan, RRI Bengkalis menjadi juaranya. Para pemenang anugerah diatas adalah hasil pilihan dari dewan juri yang berkompeten di bidang masing-masing. Tak hanya juara dari dewan juri, ada pula kategori terfavorit pilihan pemirsa dari Twitter. Seperti kategori presenter wanita terfavorit diraih oleh Sarah Sechan dan NET TV dan kategori presenter pria terfavorit adalah Karni Ilyas dari tvOne. Sebagai penghargaan terhadap insan penyiaran Indonesia, KPI menyerahkan lifetime achievment award untuk Maria Ontoe yang sudah lebih dari 40 tahun berkarya di bidang penyiaran.

Program-program berkualitas ini menjadi oasis ditengah-tengah kualitas penyiaran Indonesia yang semakin buruk. Lembaga penyiaran televisi misalnya yang tetap β€œmendewakan” rating dalam merancang program-program siarannya. Padahal rating yang tinggi belum tentu menunjukkan kualitas program yang tinggi. Dari hasil penelitian KPI pada Juni 2015, program sinetron dan sejenisnya mendapat indeks kualitas sebesar 2,51. Program infotainment pun justru hanya 2,34. Sedangkan variety show mendapat indeks sebesar 2,68. Padahal, standar yang ditetapkan KPI untuk program yang berkualitas adalah sebesar 4.

Banyaknya siaran yang tidak mendidik namun ratingnya yang tinggi bisa jadi merupakan cerminan bagi diri kita sendiri. Apakah kita memang menyukai tayangan-tayangan yang tidak bermutu tersebut? Apakah rela keluarga kita tercemari dengan tayangan-tayangan tersebut? Mungkin inilah sebab Indonesia sangat susah untuk maju, atau bahkan takut untuk maju. Televisi menjadi media paling efektif untuk mempengaruhi tingkah laku keseharian kita.

Meski banyak tayangan-tayangan dibawah standar KPI, namun hanya sedikit yang berkualitas dan bahkan diatas standar rata-rata yang ditetapkan KPI. Program religi dan wisata atau budaya mendapat standar yang cukup tinggi, yakni masing-masing 4,1 dan 4,09. Meskipun sedikit saja yang berkualitas, namun paling tidak sudah memberikan optimisme jika lembaga penyiaran mau mengutamakan kualitas, masyarakat pasti akan tetap menonton televisi dan yang pasti akan mencerdaskan masyarakat.

Frekuensi televisi dan radio adalah milik publik yang digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. Lembaga penyiaran hanya menyewa frekuensi tersebut yang seharusnya menjadi sarana untuk mencerdaskan masyarakat, membuat optimis, bukan semakin membodohi masyarakat dan membuat pesimis dengan masa depan. Sebelum membuat program siaran, lebih baik para pengelola media memikirkan matang-matang hal tersebut.

Program-program siaran yang mendapat Anugerah KPI 2015 merupakan contoh program siaran yang mementingkan kualitas dibanding rating. Sepanjang perhatian saya menonton program-program tersebut, pantas rasanya mereka mendapatkan penghargaan karena konsistensi pada kualitas. Bukan rating yang nomor 1 bagi mereka, namun masyarakat. Jika ternyata kualitas mereka tinggi dan ratingnya juga tinggi, maka itu adalah bonus bagi program tersebut.

KPI sebagai lembaga yang punya otoritas dalam mengawasi program-program siaran di Indonesia harus dibantu tugasnya oleh masyarakat. Jika pernah mengunjungi kantor KPI, gedung mereka bukan sebesar gedung milik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang besar, namun hanya menempati ruangan yang untuk seukuran lembaga negara dengan tugas yang besar, sangat kecil. Mereka harus menyaksikan seluruh siaran televisi 24 jam non-stop, mencatatnya jika ada pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), dan tugas-tugas lainnya.

Sebagai konsumen dan penikmat media terutama penyiaran, masyarakat kini dituntut untuk cerdas dalam memilih program siaran. Tak hanya memilih saja, namun juga mendampingi paling tidak untuk keluarga sendiri. Disinilah peran media literasi sebagai filter bagi program-program siaran yang tidak berkualitas masuk ke dalam masyarakat.

Memang tak dipungkiri, hadirnya program-program siaran yang tak bermanfaat itu akibat persaingan media yang kian sengit. Sebagai contoh, stasiun televisi A membuat satu program sinetron yang kebetulan ratingnya sangat tinggi. Kemudian stasiun televisi B akhirnya membuat sinetron dengan konsep yang sama untuk menyaingi program stasiun televisi sebelah. Kemudian stasiun televisi C juga melakukan hal yang sama. Pola ini ibarat lingkaran setan yang tidak akan putus jika tidak ada kesadaran dari pengelola media memperbaiki kualitas tayangannya. Yang untung tetap saja para pemilik media ini, namun masyarakat yang menjadi korbannya.

Karena itulah, masyarakat Indonesia sudah harus dituntut cerdas dalam bermedia, memilih program-program yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Jika tidak suka dengan program siaran tersebut, adukan saja ke KPI atau cukup matikan televisinya. Jika punya modal lebih, silakan saja bikin media sendiri yang berkualitas dibanding lainnya.

Dari Anugerah KPI 2015 ini, saya berharap akan lahir program-program siaran atau bahkan media-media baru yang mengutamakan kepentingan masyarakat dalam menyusun program-programnya. Program yang mencerdaskan kehidupan bangsa, merangsang pertumbuhan ekonomi, dan menjaga kedaulatan bangsa. Semoga di Anugerah KPI 2016 mendatang, semakin banyak program-program siaran yang menjadi oasis. Siaran yang berkualitas dan mencerdaskan bangsa Indonesia. Hidup Penyiaran Indonesia! (*)

*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM 2012, Pengamat Media, Direktur Utama MediaMahasiswa.com, dan Ketua Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) cabang Malang.
Dipublikasikan di Malang Post, 7Β DesemberΒ 2015 halaman Opini.
mpopinides

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *