Jalan-Jalan ke Malaysia

Keinginan untuk pergi melihat “dunia luar” akhirnya terwujud pada 31 Agustus lalu. Setelah sekitar 6 bulan sebelumnya mengurus dokumen yang dipersiapkan a.k.a paspor, mempersiapkan tiket pulang-pergi pada 3-4 bulan sebelumnya, serta menabung untuk akomodasi dan lain sebagainya, kesempatan pergi ke negara tetangga terwujud. M-A-L-A-Y-S-I-A – S-I-N-G-A-P-U-R-A. Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 5 hari usai Kuliah Kerja Nyata (KKN) memang dimaksudkan untuk mengistirahatkan otak dan menikmati perjalanan sebagai solo backpacker untuk pertama kalinya. Inilah sedikit kisah tentang perjalanan seorang anak manusia menuju Negeri Jiran tersebut.

Hari ke- 1 (30 Agustus)

10.00 WIB

Perjalanan dimulai dari Stasiun Malang Kota Baru. Namun sebelumnya, saya menukarkan uang rupiah ke money charger di dekat stasiun. Tak banyak sih, waktu itu menukarkan sekitar 360ribu Rupiah dengan 100 Ringgit Malaysia (RM). Usai menukarkan uang untuk bekal selama di Malaysia, saya berangkat ke Stasiun. Oh ya, perkenalkan dulu sebelumnya teman yang mengantar jemput saya ke Stasiun, Bagas Suryo Adi. Sebagai balas budinya, traktir makan adalah suatu keharusan sebagai rasa terimakasih sudah diantar-antar. Thanks Bro!

13.00 WIB

Bel Kereta Api Eksekutif Gajayana sudah memanggil para penumpangnya untuk  memasuki gerbong. Perjalanan menuju Jakarta dari Malang membutuhkan waktu sekitar 15 jam untuk kereta api eksekutif. Kok eksekutif? Karena yang ekonomi sudah penuh, dan waktu yang memungkinkan untuk sampai di Bandara Soekarno-Hatta tepat waktu adalah dengan kereta api eksekutif. Ya sudah pakai kereta ini saja. Kok tidak naik pesawat sekalian? Harganya tidak beda jauh kan? Ya memang. Tapi saya lebih menikmati perjalanan naik kereta api. Intinya, ingin menikmati perjalanan!

Kebetulan di tempat duduk samping saya, ada seorang ibu-ibu yang hendak menuju Solo. Inilah senangnya naik kereta api, banyak ketemu orang yang tidak dikenal, tapi alhamdulillah selalu ramah dan baik. Ia bercerita saat di perjalanan bahwa ke Malang menjenguk anaknya yang kuliah di PTN di Malang. Ia ternyata juga lulusan Universitas Indonesia (UI). Kebetulan di depan tempat duduk ada KAI TV. TV Kabel yang ada di kereta api eksekutif. Ibu-ibu ini ternyata juga konsern dengan literasi media. Hampir seluruh tayangan yang muncul ia kritisi. Sebagai mahasiswa Komunikasi, tentu gengsi jika tidak dapat menjelaskan bagaimana proses konten siaran itu sampai ke pemirsa. Akhirnya, saya turut bercerita tentang bagaimana produksi konten siaran saat ini, konglomerasi media, dan bagaimana literasi media menanggapi hal seperti ini.

Senang rasanya selama di kereta ada teman diskusi, biarpun jauh lebih tua dari saya, he he. Selama perjalanan ini pula, ibu-ibu ini yang mentraktir saya makan. Terimakasih ibu, semoga dicatat sebagai amal kebaikan.

Perjalanan masih panjang, dan setelah isya, saya putuskan untuk tidur.

Day 2 (31 Agustus)

04.30 WIB

“Perhatian kepada seluruh penumpang Kereta Api Eksekutif Gajayana, sesaat lagi kereta api akan tiba di Stasiun Gambir. Bagi penumpang yang akan turun disini dimohon untuk bersiap-siap, jangan sampai ada barang yang tertinggal. Terimakasih telah menggunakan layanan Kereta Api Eksekutif Gajayana dan Selamat meneruskan perjalanan.”

Begitu kurang lebih pengumuman di gerbong kereta yang kemudian membangunkan saya dari tidur. Saya yang hanya membawa satu tas ransel dan satu tas kamera tidak banyak bersiap-siap, karena semua barang saya letakkan persis di depan tempat duduk. Ketika kereta sudah berhenti, saya segera turun dari kereta.

“HALO JAKARTA”

Yah, itu ucapan pertama ketika baru turun dari Kereta. Sebenarnya saat itu mau langsung Sholat Shubuh, tapi karena belum azan jadinya saya langsung menuju Pool Bis Damri yang ada di depan Stasiun Gambir. Tujuannya jelas, langsung menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sholat Shubuhnya, di dalam bis saja, he he.

07.00 WIB

Bis Damri sudah tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Masih terlalu pagi untuk masuk tempat Check In, karena itu sambil menunggu, saya nongkrong dulu di ruang tunggu bandara lantai dua, menikmati pemandangan lalu lalang pesawat dari terminal yang digadang-gadang menjadi terminal terindah dan terbesar.

09.00 WIB

Saya sebenarnya udah janji ingin ketemu dengan seseorang di bandara ini. Ya, seorang teman sendiri di kampus, yang pertama kali membawa saya jalan-jalan ke luar Malang, dan yang sering banget ngompori backpackeran ke luar negeri. Dialah Anton Ardi.

Foto bareng sama Anton di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3
Foto bareng sama Anton di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3

Rencananya, ia dan pacarnya mau backpacker ke Singapura, sedangkan saya ke Malaysia. Mereka memang pasangan backpacker. Setelah menunggu di ruang tunggu, ia dan pacarnya tiba di ruang tunggu bandara. Sembari menunggu keberangkatan pukul 11.00 WIB, kami asyik mengobrol bagaimana tips-tips backpacker di Negeri Jiran. Lagi asyik ngobrol, ternyata persis di belakang saya ada rombongan pemuda dari Malaysia yang akan balik ke negaranya. Akhirnya, kami pun berkenalan dengan mereka. Saya sudah lupa namanya, tapi yang satu adalah sarjana Komunikasi dari Universiti Sains Malaya (USM). Dan ternyata, saya satu pesawat dengan mereka. Tentu saja peluang ini tidak saya sia-siakan. Selama perjalanan saya banyak menanyakan tempat recommended di Malaysia dan bagaimana mencapainya. Terimakasih bro!

Waktu sudah menunjukkan 11.00 WIB, tiba waktunya boarding ke pesawat. See You again Indonesia.

14.00 GMT+8

Hampir dua jam lebih di pesawat saya habiskan untuk tidur. Oh ya, saya menggunakan pesawat Air Asia Indonesia yang saya dapat sekitar 380ribu Rupiah. Pulangnya, pakai maskapai yang lain lagi. Setelah mengudara melewati langit udara Indonesia dan Singapura, akhirnya sampai juga di Terminal Low Cost Carrier (LCC) Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sekali lagi, karena tidak membawa banyak barang, setelah keluar dari pesawat tidak perlu menunggu bagasi lagi. Bandaranya mirip-mirip dengan Bandara Sepinggan Balikpapan. Ada mall di dalamnya, tapi yang ini kita diputer-puter. Mungkin biar seluruh bagian bandara terlewati ya. Sebelum keluar bandara, saya mampir ke loket pembelian tiket bus menuju KL Sentral. Harga bisnya terjangkau, hanya 11 RM atau sekitar 35ribu Rupiah jika di kurskan. Bisnya juga cukup nyaman, seperti bis eksekutif. Ada audio dan video, namun tidak ada makanan dan toilet. Jadi sebelum naik bis ya mampir toilet dulu, he he.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke KL Sentral, di kiri dan kanan banyak perkebunan sawit yang sangat luas. Karena sepanjang perjalanan hanya ditemukan pohon sawit, akhirnya saya tidur lagi.

15.30 GMT+8

Setelah 1,5 jam lebih di perjalanan, akhirnya sampai juga di Kuala Lumpur! Ya hampir sama seperti Jakarta, banyak gedung-gedung tingginya. Tak lama kemudian, bis memasuki KL Sentral. Stasiun tersibuk di Malaysia kalau saya lihat.

Turun dari bis, saya segera ke lantai atas untuk membeli tiket LRT ke Pasar Seni. Beli tiket LRT tidak di loket seperti di Indonesia. Pembelian tiket dilakukan secara otomatis melalui mesin yang mirip vending machine minuman. Cukup masukkan koin sen atau uang kertas nominal 1 RM, 5 RM, 10 RM, 25 RM, atau 50 RM. Awalnya bingung mengoperasikannya, namun ada warga Malaysia yang membantu saya untuk membeli tiket tersebut. Pertama pilih dulu tujuan LRTnya. Saya pilih Pasar Seni. Kemudian pilih berapa orang yang berangkat. Karena hanya saya sendiri, saya klik satu orang, dan kemudian muncul tarif LRTnya. Dari KL Sentral ke Pasar Seni hanya 1 RM. Jadi saya masukkan uang kertasnya, kemudian dari mesin tersebut muncul koin plastik sebagai tiket masuk ke kereta.

Di dalam kereta ternyata juga sama saja dengan Indonesia, berdesak-desakan. Tapi lebih rapi dan bersih. Perjalanan pun hanya sebentar, kurang dari 5 menit sudah sampai di tujuan. Dari Stasiun Pasar Seni, saya berjalan mencari penginapan yang akan dijadikan tempat menginap, yakni Submarine Guest House @ Central Market. Agak susah mencarinya karena ternyata lokasinya berada di gang. Saya harus melewati deretan souvenir yang diperdagangkan di sepanjang jalan Central Market tersebut. Untung saja ada teknologi, Google Maps. Akhirnya ketemu juga dengan penginapannya.

17.00 GMT+8

Sesampainya di penginapan, ternyata ada sedikit masalah. Pihak penginapan tidak menemukan daftar pemesanan saya. Sekedar diketahui, waktu itu saya memesan penginapan tersebut menggunakan Traveloka. Entah kenapa, pihak penginapan tidak menemukan catatan pemesanan tersebut. Dengan Bahasa Melayu yang sedikit dan Bahasa Inggris seadanya, saya mencoba meyakinkan kalau saya sudah memesan dan membayar penginapan tersebut.

Setelah sekitar 15 menit dicari, akhirnya mereka menemukan catatan pemesanan saya. Mereka kemudian meminta maaf telah menunggu lama, dan saya pun diantar di kamar tidur yang berisi 5 kasur. Saya campur dengan turis lainnya saat itu. Ada yang dari Malaysia, Tiongkok, dan Korea Selatan. Saya berkenalan dengan mereka, tentunya dengan bahasa Inggris, kemudian saya mandi dan rebahan sebentar sebelum malamnya berjalan-jalan ke Twin Tower.

18.00 GMT+8

Saya janjian dengan seorang kawan dari grup Backpacker Dunia. Namanya May. Dia lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ya sama-sama satu almamater Muhammadiyah he he. Kebetulan dia saat itu sedang tes wawancara kerja di KL. Jadi sekalian ada yang jadi tour guide semalam disini.

Karena memang lagi ingin lihat Twin Tower, saya memutuskan ketemuan saja disana. Dari penginapan, saya menaiki LRT rute Pasar Seni – Kuala Lumpur City Center (KLCC). Saya lupa persisnya berapa yang saya keluarkan untuk menuju KLCC, namun kurang dari 5 RM yang pasti he he.

Perjalanan dari Pasar Seni ke KLCC hanya ditempuh sekitar 3-5 menit, karena harus berhenti di beberapa stasiun LRT seperti Masjid Jamek, Dang Wangi, dan Kampung Baru. Sesampainya di stasiun KLCC, saya sudah berada persis di bawah Twin Tower.

Twin Tower KL saat malam hari
Twin Tower KL saat malam hari

Di samping persis Twin Tower, juga ada mal Suria KLCC. Di dalam mal tersebut dijual berbagai merek-merek ternama kelas dunia. Ya, karena tujuannya bukan shopping jadi tidak begitu memperhatikan. Namun yang menarik perhatian adalah di belakang Suria KLCC.

Ternyata ada sebuah public area yang cukup besar, berupa danau dan lengkap ada panggung juga permainan air mancur dengan lampu warna-warni. Disinilah saya bertemu dengan May. Ternyata dia juga sedang mengantarkan adik-adik tingkatnya yang akan melakukan pertukaran mahasiswa di Malaysia.

Permainan air mancur dengan lampu menambah keindahan tempat ini.
Permainan air mancur dengan lampu menambah keindahan tempat ini.

Ya dia hanya mengantarkan keliling-keliling di sekitar Twin Tower saja. Sembari berjalan-jalan menikmati udara KL dan gemerlap lampu gedung-gedung tinggi. Sama saja seperti Jakarta. Bedanya, ini lebih rapi. Setelah berjalan-jalan di Twin Tower, saya putuskan kembali ke penginapan.

Foto dulu di depan Twin Tower
Foto dulu di depan Twin Tower

Day 3 (1 September)

05.00 GMT+8

Hari ini saya ingin ke Singapura. Namun masih ada hal yang mengganjal sebelum berangkat ke Negeri Singa Putih itu. Bisakah saya kembali nanti ke Malaysia?

Sebelum saya berangkat memang sempat browsing jika bisa ke Singapura melalui kereta langsung dari KL. Namun beberapa hari sebelum keberangkatan, ternyata sudah tidak bisa lagi kereta langsung dari KL ke Singapura. Kita harus transit dulu ke Johor Bahru kemudian berganti kereta ke Woodsland Singapura. Setelah dihitung-hitung biaya yang harus dikeluarkan karena jatah saya cuma tinggal sehari liburan, saya putuskan tidak jadi ke negeri sebelah itu. Bukan karena uangnya tidak cukup, namun waktunya yang tidak cukup.

07.00 GMT+8

Karena agenda saya ke Singapura batal, saya putuskan untuk berjalan-jalan ke Batu Cave. Saya tahu tempat ini dari rekomendasi kawan saya, Anton, yang memang penggila traveling.

Perjalanan menuju Batu Cave ditempuh dengan MRT dari KL Sentral. Tiketnya pun masih terjangkau, hanya 5 RM saja. Lama perjalanan juga tidak terlalu lama, sekitar 30 menit dari KL Sentral. Bedanya dengan LRT, kalau MRT ini konsepnya seperti subway, jadi berada di bawah stasiun. Sedangkan LRT ada di atas stasiun atau melayang. Inilah yang saya suka dari KL, banyak alternatif transportasi umumnya. Semoga ini bisa dicontoh di Indonesia.

08.30 GMT+8

Sesampainya di Batu Cave, hawa-hawa dan aroma India sudah terasa. Ternyata tempat ini seperti tempat peribadatannya orang-orang India. Aroma dupa dimana-dimana. Jika tidak biasa dengan aroma ini, mungkin sangat mengganggu.

Memasuki area Batu Cave, banyak burung-burung merak dibiarkan lepas di sekitar tempat peribadatan. Ini menjadi pemandangan unik tersendiri. Mereka seakan-akan tidak merasa terganggu dengan kehadiran manusia yang lalu lalang berwisata.

Burung Merak berkeliaran di sekitar Batu Cave
Salahsatu Burung Merak yang berkeliaran di sekitar Batu Cave

Pemandangan burung merpati pun turut menghiasi Batu Cave ini. Manusia dan para hewan di tempat ini seperti hidup berdampingan. Ini menjadi objek foto tersendiri bagi wisatawan.

Burung Merpati juga banyak berkeliaran di Batu Cave
Burung Merpati juga banyak berkeliaran di Batu Cave

Untuk mencapai Batu Cave, saya harus menaiki ribuan anak tangga yang sangat tinggi dan melelahkan. Bagi yang takut ketinggian, disarankan jangan coba-coba naik tempat ini.

Batu Cave terletak di belakang patung tinggi tersebut. Masuk kesana harus melewati ribuan anak tangga.
Batu Cave terletak di belakang patung tinggi tersebut. Masuk kesana harus melewati ribuan anak tangga.
Isi Batu Cave
Isi Batu Cave

Sesampainya di puncak, aroma dupa semakin kental. Saat itu juga sedang ada prosesi peribadatan meskipun hanya segelintir orang yang melakukannya. Di tempat ini, monyet-monyet liar naik turun tangga, mungkin berharap di kasih makanan oleh para pengunjung. Karena sudah tidak tahan dengan aroma dupanya, saya putuskan turun dan kembali pulang ke penginapan.

Ada monyet bertengger di pagar
Ada monyet bertengger di pagar

17.00 GMT+8

Tak lengkap rasanya kalau ke KL belum mengunjungi Masjidnya. Saya tertarik untuk mengunjungi Masjid Jamek. Katanya, ini adalah salahsatu masjid tertua di KL. Sebagai salahsatu warisan budaya dan sejarah Malaysia, keindahan dan kebersihan masjid ini sangatlah dipelihara. Bahkan bangunannya pun terlihat masih utuh seperti awal kali dibangun. Mungkin hanya dipugar sedikit saja, namun tidak mengubah ciri khas dari masjid ini.

Mengunjungi Masjid Jamek dari penginapan saya di Pasar Seni cukup hanya 1 RM dengan LRT. Lokasinya pun persis di samping stasiun.

Ada hal unik saat hendak Sholat di Masjid ini. Saat mau berwudhu, saya dipanggil oleh seorang warga Malaysia. Mungkin pulang kantor. “Are you Indian?” begitu tidak salah tanyanya. Saya dikira orang India. Langsung saja saya jawab, “No, i’m tourist from Indonesia.”

Setelah tahu saya dari Indonesia, kemudian dia mengucapkan salam dan berbicara dengan bahasa Melayu. Saya tidak paham dengan apa yang ia bicarakan. Namun sadar saya tidak mengerti dia bicara apa, kemudian ia langsung berbicara bahasa Inggris. “Kita ini satu saudara, sama-sama muslim, seharusnya negara kita ini saling bekerjasama bukan bermusuhan.” Itu yang saya tangkap.

Setelah berbincang sejenak, azan kemudian berkumandang, dan saya lanjutkan mengambil wudhu untuk sholat berjamaah.

20.00 GMT+8

Usai kembali dari Masjid Jamek, saya sempatkan untuk pergi ke Pasar Seni untuk membeli beberapa oleh-oleh. Ya tidak seberapa, hanya kaos, post card, dan gantungan kunci. Sebelumnya, saya sempatkan juga makan di KL Sentral. Disini saya bertemu secara tidak sengaja dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Surabaya. Karena tahu saya dari Malang, akhirnya kita pakai boso jowo. Usai makan, saya membeli oleh-oleh di Pasar Seni dan kembali ke penginapan untuk packing pulang ke Indonesia besoknya.

Day 4 (2 September)

06.00 GMT+8

Pagi-pagi saya sudah menuju ke KL Sentral untuk pergi ke bandara. Menuju KLIA, saya kembali menggunakan bis Aerobus seharga 11 RM. Karena masih mengantuk, sepanjang perjalanan menuju KLIA saya putuskan untuk tidur saja.

07.30 GMT+8

Bis sudah tiba di bandara. Namun pesawat saya Malindo Air dari KL ke Jakarta baru akan berangkat pukul 11.00. Karena masih lama, saya putuskan untuk membaca buku yang memang sengaja saya bawa. Tak terasa memang jika dibawa baca buku. Hingga pukul 11.30, panggilan Boarding untuk penumpang Malindo Air. Saya tutup buku, dan menuju pesawat. Terimakasih Malaysia atas liburannya.

14.00 WIB

Hai Indonesia, Hai Jakarta! Malindo Air yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Soekarno-Hatta terminal 2. Tak ingin berlama-lama, saya langsung menuju loket bis Damri untuk menuju Stasiun Gambir. Dengan seharga 40ribu, tiket Damri sudah ditangan, dan perjalanan ke Stasiun Gambir dimulai.

14.30 WIB

Sesampainya di Gambir, saya langsung mencari Bajaj untuk mengantarkan saya ke Stasiun Pasar Senen. Ya, perjalanan pulang ke Malang akan saya tempuh dengan kereta api ekonomi Matarmaja. Kalau di Gambir itu kereta eksekutif. Tiket kereta seharga 115ribu pun sebelumnya sudah ditangan.

Ini yang saya suka dengan Jakarta, naik Bajaj. Kalau ke Jakarta tidak naik Bajaj, tidak lengkap. Sampainya di Stasiun Pasar Senen, saya bayar tukang bajajnya 10ribu, dan saya segera masuk ke stasiun.

Tidak butuh waktu lama, penumpang kereta Matarmaja sudah diminta masuk ke dalam kereta, dan tepat pukul 16.00 WIB, kereta berangkat menuju Malang dengan lama tempuh perjalanan sekitar 18 jam. Bye! (***)

2 komentar pada “Jalan-Jalan ke Malaysia

  • 6 Oktober 2015 pada 09:48
    Permalink

    Are you indians…?
    Yes..my old grand father was from pakistan
    mestinya kamu jawab begitu…kalau dilihat sepintas kamu memang mirip orang india karena ada darah orang aceh yg mengalir .

    Balas

Komentar Anda