Belajar dari ‘Mulhari’

Manusia memang jauh dari kata sempurna. Walaupun banyak yang dilahirkan dengan keadaan ‘sempurna’ secara fisik dan mental, namun banyak juga yang tidak beruntung. Mereka tidak diberikan ‘kesempurnaan’ fisik, atau mental. Namun dari mereka juga kita bisa belajar, seperti sosok Mulhari. Kenapa kita harus belajar darinya?

PERAWAKANNYA kurus, tingginya sekitar 160an cm. Dia merupakan seorang yang buta. Namun ada sesuatu yang luar biasa dari dirinya, bahwa kenyataannya dia merupakan seorang muadzin. Ia selalu mengumandangkan azan di Masjid Arafah, di suatu kampung bersebelahan dengan komplek perumahan saya, Garden Palma. Saya menemuinya saat pertama kali saya sholat di masjid tersebut, mulanya saya tidak menaruh curiga sedikitpun terhadapnya. Dia seperti biasa, saya ketahui sebagai seorang muadzin.

Sampai akhirnya tiba waktunya sholat Jumat. Tiba-tiba saja dia seperti menabrakku dan kemudian langsung sholat sunnah Tahiyatul Masjid. Saya mulai curiga, ada apa sebenarnya dengannya? Kecurigaan saya semakin menjadi saat usai sholat ia berkata pada saya, “Mas, didepan saya kosong atau tidak?” “Disebelah kiri sama kanan kosong mas,” saya balas demikian. “Tolong tuntun saya ke depan mas,” katanya lagi. Saya pun langsung menuntunnya untuk maju ke shaf depan saya. Dari situ, kecurigaan saya semakin menjadi.

Waktuku untuk berkenalan dengannya akhirnya tiba, saat memasuki waktu sholat maghrib. Usai ia mengumandangkan adzan dan sholat sunnah Qobliyah Maghrib, ia berkenalan dengan saya. Mulanya ia menanyakan nama saya, dan akhirnya saya ketahui ia bernama Mulhari. Ia menanyakan hal-hal yang umum seperti tinggal dimana, dengan siapa, dan kuliah dimana. Sampai akhirnya menjelang iqomah, ia berkata, “Saya tidak bisa melihat mas,” sontak saya kaget! Masih dalam suasana kaget tersebut, saya langsung mengikuti sholat maghrib berjamaah.

Kesempatan untuk mengetahuinya lebih jauh muncul keesokan harinya diwaktu yang sama. Selama sebulan penuh menjadi jamaah dimasjid tersebut, ada sesuatu yang patut ditiru darinya. Meskipun ia seorang yang tak sempurna secara fisik, namun ia merupakan seorang yang sempurna mentalnya. Ia sangat mandiri, ke masjid pun ia datang sendiri. Begitu sesampainya di masjid, ia juga membantu membersihkan masjid sebisanya, walaupun ia tidak melihat sedikitpun. Namun yang lebih saya kagumi darinya, adalah pengetahuan tentang agamanya yang cukup dalam dibandingkan orang-orang yang diberi kesempurnaan lebih darinya. Yang bisa dipelajari darinya, adalah kerja keras dan kesungguhan juga kemauan belajar yang begitu tinggi. Karena tanpa itu, biarpun orang itu sempurna, tidak bisa berarti apa-apa di dalam permainan dunia fana ini.

 

Seorang yang tidak pernah berusaha dan bersungguh-sungguh, tidak akan pernah menjadi ‘orang’. Orang yang berusaha dan bersungguh-sungguh dengan keyakinannya, yakinlah ia akan menjadi ‘seseorang’.

-Muhammad Zulfikar Akbar-

Published by Muhammad Zulfikar Akbar

Jika ingin dunia mengenalmu, menulislah (berkaryalah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *